IHSG Anjlok Akibat Sentimen Global dan Domestik

Budi Santoso

IHSG Anjlok Akibat Sentimen Global dan Domestik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan sejak pembukaan perdagangan, Senin (18/5), anjlok lebih dari 4% hingga menyentuh level 6.400-an. Pelemahan ini dipicu oleh sejumlah faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Salah satu penyebab utama adalah pengumuman penyesuaian konstituen saham Indonesia dalam indeks MSCI yang dirilis pada Rabu (13/5). Bersamaan dengan itu, FTSE Russell juga mengumumkan akan mengeluarkan saham dengan kategori high shareholding concentration (HSC) dari indeksnya. Kedua pengumuman ini menimbulkan kekhawatiran bagi investor mengenai pergerakan saham-saham tertentu di pasar modal Indonesia.

Pergerakan bursa regional juga turut membebani IHSG. Data perdagangan menunjukkan bahwa Nikkei 225 Index (N225) melemah 0,92%, Hang Seng Index (HSI) terkoreksi 1,59%, Shanghai Composite Index (SSEC) turun 0,22%, dan Straits Times Index (STI) juga terpantau melemah 0,54%. "Tidak hanya MSCI dan FTSE saja yang mempengaruhi IHSG hari ini, namun dari sisi pasar global dan regional Asia juga turut menekan pergerakan indeks," ungkap Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana.

Selain sentimen dari pengumuman indeks dan bursa regional, konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut meningkatkan harga minyak mentah dunia, yang kini dilaporkan berada di atas US$ 100 per barel. Peningkatan harga komoditas ini dapat memicu kekhawatiran inflasi dan perlambatan ekonomi global.

Dari sisi domestik, pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh depresiasi nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.676 per dolar AS. Akumulasi sentimen negatif ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi tekanan inflasi di masa depan serta ancaman perlambatan ekonomi global.

Baca Juga :  Tarif Listrik April-Juni 2026 Tetap, Jaga Daya Beli

Menyikapi situasi ini, Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menyatakan bahwa investor saat ini tengah melakukan penyesuaian portofolio di pasar modal Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap pengumuman MSCI dan FTSE Russell. "Pasar menilai kebijakan ini berpotensi memicu penyesuaian portofolio lanjutan dari investor asing maupun passive funds, terutama pada saham-saham dengan free float terbatas dan likuiditas yang kurang ideal," jelas Reydi.

Ia menambahkan bahwa investor tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan investasi. Proses penyesuaian portofolio ini diperkirakan akan berlangsung secara bertahap selama beberapa minggu ke depan, tergantung pada profil risiko, tujuan investasi, dan likuiditas pasar. Investor akan mencermati perkembangan lebih lanjut sebelum kembali menempatkan dananya secara agresif di pasar modal Indonesia.

Also Read

Tinggalkan komentar