
Menteri Lingkungan Hidup dan Keamanan Energi Italia, Gilberto Pichetto Fratin, menyatakan optimisme bahwa harga energi dunia akan mengalami penurunan signifikan segera setelah tercapainya perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pernyataan ini disampaikan Fratin dalam wawancara dengan surat kabar Italia, Corriere della Sera, pada Senin (25/5/2026). Fratin meyakini bahwa dengan adanya kesepakatan damai, faktor spekulasi komersial yang selama ini memicu kenaikan harga energi akan serta-merta menghilang. Peningkatan pasokan energi sebagai konsekuensi dari meredanya ketegangan geopolitik juga diprediksi akan mendorong harga turun.
"Jika semuanya berjalan lancar, maka dampak positifnya dapat segera dirasakan. Sebab, faktor harga yang disebabkan oleh spekulasi komersial akan langsung menghilang. Seiring dengan meningkatnya pasokan, maka harga pun akan turun," ujar Fratin. Ia menambahkan bahwa ada harapan besar negosiasi tersebut akan berujung pada gencatan senjata dan perjanjian damai yang komprehensif.
Namun demikian, Fratin mengakui adanya ketidakpastian mengenai seberapa besar penurunan harga energi yang bisa diharapkan. Ia menyoroti bahwa masalah pengenaan tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial untuk pasokan energi global, masih belum terselesaikan. Kompleksitas penyelesaian isu-isu seperti ini membuat sulit untuk memprediksi waktu pasti pemulihan kondisi normal. "Kami tidak tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk memulihkan semuanya. Saya kira akan perlu waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun, untuk kembali ke kehidupan normal," tuturnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengindikasikan bahwa AS memiliki peluang yang cukup besar untuk mencapai kesepakatan sementara dengan Iran terkait isu nuklir. Eskalasi ketegangan yang melibatkan Iran sebelumnya telah menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan arteri vital untuk ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global. Blokade tersebut tidak hanya membatasi aliran pasokan, tetapi juga berdampak langsung pada tingkat produksi minyak, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai belahan dunia.
Pipa Druzhba, yang berperan penting dalam mengalirkan minyak dan gas dari Rusia ke Jerman, merupakan salah satu contoh infrastruktur energi yang sensitif terhadap gejolak geopolitik. Potensi penurunan harga energi pasca perjanjian damai AS-Iran diharapkan dapat meringankan beban ekonomi bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi, serta menstabilkan pasar energi global yang selama ini bergejolak.











