
Harga rata-rata bensin di Amerika Serikat pada Jumat, 1 Mei 2026, menorehkan rekor tertinggi sejak Juli 2022, mencapai 4,392 dolar AS per galon (setara Rp76.000 dengan kurs Rp17.300 per dolar AS). Kenaikan signifikan ini, lebih dari 9 sen dalam sehari, dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik yang melibatkan Iran.
Menurut data terbaru dari asosiasi otomotif Amerika, AAA, yang dikutip oleh RIA Novosti, kenaikan harga bensin jenis Regular ini telah mencapai 1,41 dolar AS sejak dimulainya operasi militer terhadap Iran. Bensin jenis Regular sendiri merupakan jenis dengan nilai oktan terendah di pasaran AS, yaitu 87, berbeda dengan Midgrade (89-90) dan Premium (91-94).
Kondisi ini paling terasa dampaknya di California, di mana harga per galon bensin mencapai angka mencengangkan, yaitu 6,06 dolar AS (Rp104.800). Tidak hanya California, empat negara bagian lain, yakni Washington, Oregon, Nevada, dan Hawaii, juga melaporkan harga bensin yang telah melampaui ambang batas 5 dolar AS per galon.
Di sisi lain, hanya 13 negara bagian yang masih mencatat harga bensin di bawah 4 dolar AS per galon. Georgia kini memimpin sebagai wilayah dengan harga termurah, yakni 3,802 dolar AS (Rp65.700) per galon, mengambil alih posisi sebelumnya yang dipegang oleh Oklahoma.
Ketegangan geopolitik ini berakar dari serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap target di Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Meskipun sempat diumumkan gencatan senjata dua pekan pada 7 April antara Washington dan Teheran, upaya pembicaraan lanjutan di Islamabad tidak membuahkan hasil. AS kemudian mengambil langkah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran sambil memperpanjang gencatan senjata.
Eskalasi konflik di sekitar Iran ini berdampak langsung pada blokade de facto di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur krusial untuk pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global. Akibatnya, pasokan energi global terganggu, yang secara langsung mendorong kenaikan harga energi, termasuk bensin, di seluruh dunia. Ketergantungan global pada pasokan energi dari kawasan ini membuat gejolak politik di sana memiliki efek domino yang signifikan pada perekonomian dunia.











