Gaya Berkendara Hemat BBM: Kunci Efisiensi di Tengah Harga Energi Fluktuatif

Budi Santoso

Gaya Berkendara Hemat BBM: Kunci Efisiensi di Tengah Harga Energi Fluktuatif

Harga energi yang terus berfluktuasi menuntut para pengguna kendaraan, baik mobil maupun motor, untuk lebih memperhatikan efisiensi pemakaian bahan bakar. Rifat Sungkar, seorang praktisi dan edukator otomotif, menegaskan bahwa kunci utama penghematan BBM sesungguhnya terletak pada penerapan gaya berkendara yang baik. Ia menjelaskan bahwa besar kecilnya konsumsi bahan bakar sangat dipengaruhi oleh cara pengemudi mengendalikan kendaraan. Berkendara secara sembrono atau agresif akan mempercepat habisnya bahan bakar.

Prinsip dasar yang diungkapkan Rifat adalah "more power, more energy". Artinya, semakin besar tenaga yang dikeluarkan oleh mesin, semakin besar pula energi yang dikonsumsi. Oleh karena itu, menjaga putaran mesin (RPM) tetap rendah pada kecepatan yang optimal menjadi langkah fundamental. Semakin tinggi tenaga yang dihasilkan mesin, semakin besar pula energi yang terbuang. Pada kendaraan manual, penggunaan gigi yang tepat sangat krusial untuk menurunkan RPM. Kebiasaan menahan gigi di posisi rendah dengan RPM tinggi justru akan membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros.

Sebagai ilustrasi, Rifat memberikan contoh. Saat berkendara dengan kecepatan 40 km/jam, pada mobil manual, gigi 1 mungkin bisa mencapai kecepatan tersebut, namun RPM-nya bisa mencapai 7.000. Padahal, dengan menggunakan gigi 2, RPM bisa ditekan hingga 3.000, bahkan dengan gigi 3, RPM bisa berada di kisaran 2.000. Semakin rendah putaran mesin, pergerakan kendaraan menjadi lebih efisien.

Baca Juga :  Utang APBN 2026 Capai Rp 305,5 T, Terkendali Sesuai Rencana

Selain menjaga RPM, menjaga laju kendaraan tetap stabil juga merupakan faktor penting dalam menghemat bahan bakar. Pengemudi disarankan untuk menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan dan sebisa mungkin menghindari perubahan kecepatan yang terlalu sering. Perubahan kecepatan yang drastis, terutama akselerasi mendadak setelah pengereman, membuat mesin bekerja lebih keras dan mengonsumsi lebih banyak bahan bakar. Fenomena ini sering terjadi pada pengendara motor matik yang cenderung menghentakkan gas secara mendadak, misalnya saat mengejar lampu merah.

Intinya, pemborosan energi terjadi ketika pengemudi tidak mampu menjaga konsistensi kecepatan. Sifat berkendara yang naik turun, kadang pelan, lalu tiba-tiba kencang, kemudian melambat lagi, sangat menguras bahan bakar. Rifat menganjurkan agar pengendara mengemudi secara halus dan mengalir saat menginjak pedal gas untuk mencapai konsumsi BBM yang lebih efisien.

Lebih lanjut, menjaga jarak aman antar kendaraan juga berkontribusi signifikan terhadap penghematan bahan bakar. Menghindari gaya berkendara "stop-and-go" yang terlalu sering adalah kunci. Rifat menjelaskan bahwa saat kendaraan dalam kondisi diam dan mulai bergerak, dibutuhkan tenaga ekstra yang besar. Namun, setelah kendaraan mulai berjalan, beban terasa lebih ringan. Energi besar inilah yang terpakai di awal pergerakan. Dengan menjaga jarak, pengemudi memiliki ruang yang cukup untuk kembali berakselerasi tanpa harus berhenti total. Menghindari "dead stop" atau berhenti total adalah cara paling efektif untuk mencegah pemborosan energi. Dengan demikian, menjaga jarak aman memungkinkan kendaraan untuk terus bergerak secara lebih lancar dan efisien.

Baca Juga :  Prabowo Targetkan Ekonomi RI Tumbuh 6,5% di 2027

Also Read

Tinggalkan komentar