
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 secara tahunan (yoy), melampaui angka 4,87 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat dan pertumbuhan solid di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pertumbuhan ini utamanya disokong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga.
"Ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen, salah satunya didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga," ujar Amalia dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Amalia merinci bahwa konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, menyumbang 2,94 persen. Kinerja positif konsumsi rumah tangga ini dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, peningkatan mobilitas penduduk yang signifikan selama momen libur nasional dan Hari Besar Keagamaan seperti Nyepi dan Idulfitri. Kedua, kebijakan pemerintah yang efektif dalam mengendalikan inflasi, sehingga daya beli masyarakat tetap stabil. Ketiga, berbagai stimulus pemerintah yang dirancang untuk mendorong konsumsi, termasuk diskon tiket transportasi, pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) atau gaji ke-14, serta penetapan suku bunga Bank Indonesia (BI rate) pada level 4,75 persen yang turut menstimulasi pertumbuhan ekonomi.
"Jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh hingga 13,14 persen (yoy), diikuti peningkatan jumlah penumpang di beberapa moda transportasi seperti angkutan darat, ASDP, angkutan udara, dan angkutan laut," jelas Amalia lebih lanjut.
Ia menambahkan, pertumbuhan penumpang angkutan darat bahkan mencatat angka yang impresif sebesar 20,20 persen. Selain konsumsi rumah tangga, komponen lain yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh solid sebesar 5,96 persen.
"Angka ini didorong oleh investasi pemerintah, termasuk pembangunan yang berkaitan dengan prioritas nasional, serta investasi dari sektor swasta," ungkap Amalia.
Sementara itu, konsumsi pemerintah juga menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan, yaitu sebesar 21,81 persen. Peningkatan ini sejalan dengan realisasi belanja pegawai yang lebih tinggi, terutama melalui pembayaran gaji ke-14 (THR), serta peningkatan belanja barang dan jasa. Salah satu program pemerintah yang berkontribusi pada belanja ini adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk masyarakat.
Dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat lima sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I 2026. Sektor-sektor tersebut meliputi industri pengolahan yang menyumbang 19,07 persen, perdagangan sebesar 13,28 persen, pertanian dengan 12,67 persen, konstruksi sebesar 9,81 persen, dan pertambangan yang berkontribusi 8,69 persen. Sinergi dari berbagai sektor ini menegaskan resiliensi dan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berlanjut.











