
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) RI, Juda Agung, menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat jauh dari ancaman krisis, berbeda drastis dengan situasi pahit yang dialami pada tahun 1997 dan 1998. Penegasan ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap indikator-indikator fundamental perekonomian yang meliputi aspek fiskal, neraca pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan. Dalam sebuah forum bergengsi, Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) di Jakarta, Senin, Juda Agung memaparkan bahwa secara historis, krisis ekonomi global umumnya dipicu oleh tiga sumber utama, namun celakanya, tanda-tanda awal dari ketiga sumber tersebut belum menunjukkan kehadirannya dalam lanskap ekonomi Indonesia saat ini.
Juda Agung memberikan gambaran historis mengenai krisis ekonomi yang pernah melanda Amerika Latin pada dekade 1980-an. Krisis tersebut bermula dari membengkaknya defisit fiskal yang tak terkendali, menyebabkan pemerintah kehilangan kemampuan untuk mendapatkan pembiayaan. Kepercayaan investor anjlok drastis, berdampak pada surat utang negara yang tak lagi diminati di pasar. Namun, di Indonesia, situasinya berbanding terbalik. Defisit fiskal saat ini berhasil dijaga secara ketat, tetap berada di bawah ambang batas 3 persen yang menjadi patokan. Yang lebih menggembirakan, pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih mendapatkan kepercayaan penuh, baik dari investor domestik maupun asing. Hal ini tercermin jelas dari imbal hasil (yield) surat utang negara yang relatif stabil, berkisar antara 6,5 hingga 6,7 persen, tanpa adanya lonjakan signifikan yang mengindikasikan kekhawatiran. "Jadi krisis yang bersumber dari fiskal itu tidak ada tanda-tandanya," ujar Juda Agung dengan nada meyakinkan.
Selanjutnya, Juda Agung merujuk pada pelajaran berharga dari krisis finansial Asia pada tahun 1997-1998. Krisis tersebut dipicu oleh maraknya perusahaan yang melakukan penarikan pinjaman luar negeri dalam jumlah masif. Ketika nilai tukar rupiah terdepresiasi tajam dan terjadi fenomena sudden stop (penghentian mendadak arus modal asing), banyak perusahaan terpaksa gulung tikar karena tidak mampu melunasi utang luar negeri mereka. Situasi ini memberikan tekanan luar biasa pada neraca pembayaran. Namun, Juda Agung dengan gamblang menyatakan bahwa neraca pembayaran Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih sehat dan seimbang. Tidak ada indikasi atau sinyal yang mengarah pada potensi krisis serupa. "Saat ini, kalau kita lihat angka-angka neraca pembayaran kita, relatif sehat dan relatif balanced. Jadi dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu," tegasnya.
Faktor ketiga yang berpotensi memicu krisis adalah ekspansi kredit yang terlalu agresif dan pecahnya gelembung aset (asset bubble) di sektor-sektor tertentu, seperti properti. Fenomena ini dapat memicu keruntuhan sistem perbankan, sebagaimana yang pernah terjadi pada krisis keuangan global tahun 2008 di Amerika Serikat. Namun, Juda Agung sekali lagi menegaskan bahwa tanda-tanda tekanan serupa belum terlihat pada sistem keuangan Indonesia. "Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data-data yang kita amati sampai dengan hari ini," pungkasnya.
Secara menyeluruh, Juda Agung menggarisbawahi bahwa perekonomian Indonesia terus menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan yang kuat. Pertumbuhan ekonomi mencapai angka impresif sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan I 2026. Angka ini didukung oleh inflasi yang tetap terjaga pada level yang terkendali, yaitu 2,42 persen pada bulan April 2026. Sektor yang menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi, yaitu konsumsi rumah tangga, juga menunjukkan performa gemilang dengan pertumbuhan sebesar 5,52 persen pada triwulan I 2026. Data-data ini menjadi bukti nyata bahwa ekonomi Indonesia kini berada di jalur yang aman dan menjanjikan, jauh dari bayang-bayang krisis.











