
Komisi XI DPR RI memanggil Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di tengah pelemahan rupiah yang kian mengkhawatirkan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda dilaporkan mencapai level terendahnya di kisaran Rp 17.600 per dolar AS, memicu kekhawatiran publik dan pertanyaan serius dari anggota dewan.
Anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino, secara gamblang mempertanyakan pernyataan Gubernur BI yang kerap menekankan stabilitas rupiah. Ia menyoroti adanya kesenjangan persepsi antara pernyataan resmi BI dan realitas yang dirasakan masyarakat, di mana ekonomi terasa kian melemah. Harris bahkan melontarkan candaan satir, "Kita tahu bahwa tadi teman-teman mengatakan kursnya sudah Rp 17.600. Bahkan muncul ejekan kalau Rp 17.845 maka Indonesia merdeka katanya, 17-8-45." Ia membandingkan pernyataan stabilitas rupiah dengan fakta pelemahan yang terjadi, "Nah, tetapi bapak mengatakan bahwa rupiah stabil relatif stabil kalau dibandingkan dengan negara yang lain."
Lebih lanjut, Harris merinci berbagai langkah agresif yang telah diambil oleh Bank Indonesia untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Upaya ini meliputi intervensi pasar yang signifikan, yang menyebabkan penurunan cadangan devisa dari US$ 156 miliar menjadi US$ 146 miliar. Selain itu, BI juga telah menaikkan instrumen Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga 6,41%, melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 332 triliun sepanjang tahun 2025 dan tambahan Rp 133 triliun, serta menerapkan kebijakan pengetatan pembelian dolar AS.
Meskipun berbagai instrumen telah dimanfaatkan, Harris melontarkan pertanyaan kritis yang mendasar, "Maka pertanyaan kritisnya adalah semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan, tetapi, why? Kenapa Rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?" Ia berpendapat bahwa meskipun tekanan global memang besar, pengakuan jujur terhadap persoalan domestik juga sangat krusial. Harris mengidentifikasi beberapa masalah domestik yang perlu segera diatasi, seperti masalah fiskal, defisit transaksi berjalan, arus modal keluar yang masif, dan penurunan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. "Tetapi harus diakui juga bahwa ada masalah serius di domestik. Ini harus jujur diakui Ada masalah di fiskal, ada masalah di defisit di current account, ada arus modal keluar dalam jumlah besar, dan ada masalah di kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia," tegasnya.
Senada dengan Harris, anggota Komisi XI DPR RI Charles Meikyansah juga menyuarakan keraguan terhadap indikator stabilitas rupiah yang digunakan oleh BI. Ia menilai bahwa pelemahan rupiah yang telah menembus angka Rp 17.600 memerlukan perhatian yang jauh lebih serius. "BI menyatakan bahwa stabilitas rupiah tetap terjaga namun secara fakta rupiah telah melemah hingga menembus Rp 17.600. Nah pertanyaan kami memang sangat sederhana, tentang indikator terjaga yang digunakan oleh BI ini bagaimana? Dan apakah BI masih melihat pelemahan rupiah ini sebagai hal biasa atau sebenarnya sudah masuk kategori tekanan fundamental Pak?" ujar Charles.
Charles juga menyoroti penurunan cadangan devisa yang kini berada di level US$ 146,2 miliar. Ia menekankan bahwa tren penurunan dalam tiga bulan terakhir patut diwaspadai, terutama jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. "Apabila terjadi juga yang disebut capital outflow yang hari ini nilainya juga nggak main-main, saya ingin tahu berapa capital outflow yang sekarang terjadi dan bagaimana langkah-langkah yang dilakukan oleh BI? Karena BI saya yakin sekali, ingin sekali menjaga nilai rupiah," tutup Charles, berharap adanya langkah konkret dari BI untuk mengatasi situasi ini.











