
Perekonomian Indonesia menunjukkan ketangguhannya di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh perang tarif dan ketegangan geopolitik. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memaparkan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia ini didukung oleh bauran energi nasional yang optimal dan eksekusi strategi fiskal yang prudent. Dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor, Juda Agung menekankan peran vital bauran energi dalam menjaga daya tahan ekonomi. "Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batu bara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global," ujarnya.
Wamenkeu Juda Agung memaparkan tiga strategi utama yang diterapkan pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sambil mempertahankan disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi.
Strategi pertama adalah pengendalian belanja negara. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi, salah satunya melalui penetapan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang stabil, meskipun ini berarti peningkatan pengeluaran subsidi. Lebih lanjut, program Makan Bergizi Gratis akan dioptimalkan dengan penyesuaian frekuensi, yaitu dikurangi pada hari Sabtu. Sementara itu, belanja negara akan difokuskan pada sektor-sektor yang memiliki produktivitas tinggi guna mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produksi, dan menciptakan lapangan kerja baru. "Itu dari sisi pengeluaran yang kita bisa melakukan pengendalian. Istilahnya refocusing. Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong menciptakan kata pekerjaan," jelas Wamenkeu.
Strategi kedua berfokus pada optimalisasi penerimaan negara. Pemerintah secara maksimal memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas untuk meningkatkan penerimaan. Selain itu, penerimaan pajak akan semakin diperkuat melalui implementasi sistem Coretax yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan kepatuhan pajak.
Strategi ketiga berkaitan dengan sisi pembiayaan. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), strategi pembiayaan diarahkan pada penerbitan surat utang dengan mata uang selain dolar AS dan tingkat bunga yang kompetitif. Contohnya termasuk Samurai bonds yang berdenominasi Yen (JPY), Dim Sum bonds dalam mata uang Renminbi, dan Kangaroo bonds dengan mata uang Dolar Australia.
Efektivitas dari penerapan strategi fiskal ini tercermin jelas pada performa ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini. Perekonomian Indonesia berhasil tumbuh kuat sebesar 5,61%. Pertumbuhan yang impresif ini disertai dengan laju inflasi yang tetap terjaga di angka 2,42%. Defisit fiskal juga terkendali di level 0,64% per April 2026, dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) serta spread pasar tetap terjaga. "Jadi empat itu sebenarnya empat indikator pertumbuhan, inflasi, fiskal defisit, dan juga yield SBN ini, menentukan bagaimana fiskal kita masih kuat. Strategi kita yang kita ambil tadi, it works. Dia bekerja dengan baik," pungkas Wamenkeu Juda Agung.











