Dolar AS Menguat Tipis Terhadap Rupiah di Tengah Pelemahan Global

Budi Santoso

Dolar AS Menguat Tipis Terhadap Rupiah di Tengah Pelemahan Global

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan tren penguatannya terhadap rupiah pada perdagangan Jumat, 29 Mei. Meskipun sempat mengalami pelemahan singkat di awal pembukaan, mata uang Paman Sam ini akhirnya kembali perkasa di hadapan rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS terpantau menguat sebesar 0,04% menjadi Rp 17.853 pada pukul 09.12 WIB, setelah sebelumnya sempat melemah 0,05% ke level Rp 17.836,5. Pergerakan ini menunjukkan volatilitas dalam perdagangan harian, namun tren penguatan terhadap rupiah tetap dominan.

Sebagai perbandingan, pada penutupan perdagangan Kamis, 28 Mei, dolar AS ditutup pada level Rp 17.845. Sepanjang tahun 2026, rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 6,93% terhadap dolar AS, sebuah angka yang mengindikasikan tekanan yang cukup signifikan terhadap mata uang domestik. Untuk perdagangan hari ini, dolar AS diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 17.813 hingga Rp 17.837. Namun, menariknya, penguatan dolar AS terhadap rupiah ini terjadi di tengah tren pelemahan terhadap sejumlah mata uang utama dunia lainnya.

Terhadap Euro (EUR), dolar AS terpantau melemah sebesar 0,03%. Hal serupa juga terjadi terhadap Pound Sterling (GBP), di mana dolar AS mengalami pelemahan 0,03%. Nasib pelemahan juga dialami dolar AS terhadap Dolar Kanada (CAD) yang terkoreksi 0,01%, dan Dolar Australia (AUD) yang melemah 0,04%. Bahkan terhadap Franc Swiss (CHF), dolar AS juga menunjukkan pelemahan sebesar 0,01%.

Baca Juga :  KAI Pasang Palang Pintu Sementara di Perlintasan Ampera Bekasi Timur

Namun, ada satu mata uang besar yang menjadi pengecualian dari tren pelemahan dolar AS ini, yaitu Yen Jepang (JPY). Terhadap JPY, dolar AS justru tercatat menguat sebesar 0,04%. Perbedaan pergerakan ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang kompleks dan faktor-faktor spesifik yang mempengaruhi nilai tukar masing-masing mata uang. Penguatan dolar AS terhadap rupiah ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter Federal Reserve AS, data ekonomi AS yang dirilis, serta sentimen pasar global yang cenderung mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi. Di sisi lain, pelemahan terhadap mata uang utama lainnya dapat mencerminkan kekuatan relatif dari ekonomi negara-negara tersebut atau kebijakan yang diterapkan. Para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan lebih lanjut untuk melihat apakah tren penguatan dolar AS terhadap rupiah ini akan berlanjut atau justru berbalik arah di sisa perdagangan hari ini.

Also Read

Tinggalkan komentar