Dolar AS Dekati Rp 17.900, BBM Subsidi Aman, Listrik?

Budi Santoso

Dolar AS Dekati Rp 17.900, BBM Subsidi Aman, Listrik?

Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan kekuatannya terhadap Rupiah, bahkan mendekati angka Rp 17.900. Di tengah pelemahan Rupiah ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan jaminan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, yaitu Solar dan Pertalite, tidak akan mengalami kenaikan. Pernyataan ini sejalan dengan komitmen Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang sebelumnya telah menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2026.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa kebijakan ini didukung oleh peningkatan produksi dalam negeri dan kesiapan kilang minyak nasional. "Jadi untuk kenaikan harga BBM yang untuk subsidi, ini kan sudah disampaikan dan ini menurut perhitungan kita kan ada produksi dalam negeri yang kita dorong itu peningkatan. Kilang di dalam negeri pun itu juga kita juga sudah siapkan," ujar Yuliot saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga telah memastikan hal serupa. Ia menyatakan bahwa fluktuasi harga minyak mentah dunia atau Indonesian Crude Price (ICP), yang berkisar antara US$ 80-81 rata-rata sejak Januari 2026, belum mencapai level yang signifikan untuk memicu kenaikan harga BBM bersubsidi. "Kalau sampai sekarang itu ICP dunia itu kan naik turun, naik turun 117, turun 90, ada yang 80 lebih, ada yang 100. Rata-rata ICP kita sekarang itu kan kurang lebih sekitar US$ 80, 80-81 terhitung dari Januari sampai sekarang," ujar Bahlil. Ia menambahkan, "Jadi belum sampai US$ 100 lah, dan belum ada kenaikan, tidak akan naik Insyaallah ya doain ya, tidak akan kita naikkan subsidi BBM."

Baca Juga :  TBS Energi Utama Catat Kinerja Gemilang Q1 2026

Namun, nasib harga listrik belum mendapatkan kepastian yang sama. Yuliot Tanjung tidak memberikan pernyataan tegas mengenai kenaikan atau penurunan harga listrik. Ia hanya menekankan bahwa pemerintah sedang berupaya memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah. Upaya ini mencakup percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt dan program penghentian operasi pembangkit listrik diesel. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan impor BBM.

"Berarti ini ada penguatan kelistrikan juga karena dari energi baru terbarukan itu juga tidak ada dampak terhadap ini kebutuhan BBM dan juga terkait dengan pengadaan gasnya. Justru ini lebih andal dan juga ini kita mengurangi penggunaan (energi fosil) dan juga ya walaupun ada fluktuasi Rupiah ini tidak akan terganggu ketersediaan energi listrik khususnya," jelas Yuliot.

Data pergerakan nilai tukar menunjukkan bahwa menjelang penutupan perdagangan pada Jumat, 29 Mei 2026, Dolar AS telah mencapai Rp 17.902, menguat dari posisi pembukaan di Rp 17.820. Meskipun sempat menguat di awal perdagangan, Rupiah akhirnya terkoreksi terhadap Dolar AS.

Also Read

Tinggalkan komentar