
Desa Benteng di Ciampea, Bogor, yang sepuluh tahun lalu belum dikenal luas, kini menjelma menjadi desa wisata potensial. Berkat lahan suburnya seluas 248,5 hektare, warga berhasil mengembangkan pertanian produktif yang berpadu dengan wisata edukasi. Konsep edu-agrotourism ini, dipelopori oleh Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng, Wahyu Syarief Hidayat, bertujuan mengenalkan dunia pertanian kepada masyarakat luas. Ide ini berawal dari kepedulian terhadap potensi desa dan kebutuhan untuk menggerakkan ekonomi lokal.

Wahyu, yang sebelumnya berprofesi sebagai pedagang pakaian, beralih profesi setelah usahanya gulung tikar akibat tren penjualan online. Ia kemudian bergabung untuk membangun desa wisata bersama mantan Kepala Desa Benteng. Dengan menggabungkan pendidikan dan wisata, Desa Benteng berhasil mengembangkan produk unggulan seperti Kampung Cassava yang mengolah singkong menjadi tepung mokaf, serta budidaya jambu kristal yang memungkinkan wisatawan memetik langsung dari kebun.
Partisipasi dalam program pemberdayaan Desa BRILiaN yang dibuka BRI pada 2020 menjadi momentum penting bagi Desa Benteng. Melalui pelatihan intensif selama tiga bulan, berbagai elemen masyarakat dilibatkan, termasuk kelompok tani, UMKM, dan tokoh masyarakat. Keikutsertaan ini tidak hanya bertujuan untuk meraih CSR, tetapi lebih kepada membangun relasi dan link untuk kemajuan desa. Konsistensi dan keberlanjutan perkembangan desa, mulai dari terangkatnya kelompok tani, peningkatan produksi UMKM, hingga ramainya kunjungan wisatawan, membuat Desa Benteng terpilih sebagai salah satu binaan Desa BRILiaN BRI pada tahun 2022.

Puncak apresiasi datang pada tahun 2023 ketika Desa Benteng menerima hibah senilai Rp 1 miliar dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) sebagai bagian dari program Desa BRILiaN. Dana hibah ini dialokasikan untuk meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana, termasuk pembangunan gapura tematik di setiap RW sesuai potensi lokal, pengembangan wisata sungai, pertanian, UMKM, hingga pembangunan Taman Desa Benteng. Konsep wisata tematik seperti Kampung Hidroponik, Kampung Cassava, dan Kampung Ramah Lingkungan kini menjadi daya tarik utama. Fasilitas yang memadai, seperti jalan paving block dan spot foto menarik di area wisata petik jambu kristal, telah mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan secara signifikan, bahkan membuat petani jambu tidak perlu lagi menjual hasil panennya ke pasar tradisional.
Sejak menjadi Desa BRILiaN binaan BRI pada 2020, Desa Benteng terus meraup berbagai penghargaan. Termasuk apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai Desa Mandiri pertama di Ciampea pada 2022, serta Anugerah Panca Karsa dari Pemkab Bogor kategori Desa Teladan di tahun yang sama. Pada 2024, Desa Wisata Benteng berhasil menembus 500 besar dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Penghargaan Desa Sejahtera pada 2025 menjadi bukti keberhasilan peningkatan kesejahteraan petani melalui pendampingan dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal. Penghargaan lainnya termasuk kategori Bank Sampah unit Gerakan Indonesia Bersih dan Kampung Ramah Lingkungan Terbaik I se-Kabupaten Bogor.

Desa Benteng juga menjadi tujuan studi banding dari berbagai negara seperti Jepang, Kanada, dan Afrika Selatan, serta Kementerian Desa Malaysia dan bankir dari Peru dan Amerika Latin. Kunjungan rutin dari sekolah dan pemerintah daerah di dalam negeri semakin memperluas jejaring dan dampak positif bagi BUMDes dan UMKM setempat. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa program Desa BRILiaN merupakan komitmen BRI dalam mengakselerasi potensi desa secara berkelanjutan, mendorong optimalisasi ekonomi, pemanfaatan layanan keuangan, serta peningkatan pemahaman manajemen dan adopsi teknologi digital. Hingga 2025, BRI telah membina lebih dari 5.200 Desa BRILiaN di seluruh Indonesia, mencerminkan konsistensi BRI dalam memperkuat peran desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional.











