
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar panen perdana benih penjenis (breeder seed) varietas padi unggul hasil pemuliaan mutasi iradiasi di Subang, Jawa Barat. Inisiatif ini menegaskan peran strategis teknologi nuklir dalam upaya percepatan swasembada pangan nasional, sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, menekankan bahwa pemanfaatan teknologi nuklir melalui radiasi sinar gamma telah bertransformasi dari sekadar riset di atas kertas menjadi kontribusi nyata dalam menghadapi krisis pangan global. "Apa yang kita panen hari ini adalah instrumen kunci untuk mewujudkan target swasembada pangan Presiden Prabowo. Dengan varietas unggul hasil iradiasi, kita bisa meningkatkan indeks pertanaman dan hasil per hektare secara signifikan," ujar Arif Satria di lahan produksi CV Fiona Benih Mandiri.
Teknologi nuklir memungkinkan para periset untuk secara luas dan aman meningkatkan keragaman genetik tanaman, guna memperbaiki karakter tanaman yang memiliki kelemahan, seperti batang yang terlalu tinggi atau umur panen yang panjang. Teknik pemuliaan mutasi dengan iradiasi sinar gamma (Co-60) bekerja dengan memberikan dosis energi radiasi tertentu pada benih padi untuk memicu perubahan struktur DNA. Perubahan ini kemudian diseleksi secara ketat oleh pemulia. Berbeda dengan Rekayasa Genetika (GMO), hasil mutasi iradiasi tidak memasukkan gen asing, sehingga aman dikonsumsi dan ramah lingkungan.
Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Dr. Mulyadi Sinung Harjono, menjelaskan bahwa kegiatan di Subang berfokus pada perbanyakan benih penjenis (label kuning) dengan tingkat kemurnian genetik mendekati 100 persen. "Benih penjenis adalah benih murni di bawah pengawasan pemulia langsung. Dari benih inti yang kita tanam ini, akan dihasilkan benih yang secara berjenjang mampu memenuhi kebutuhan ribuan hektare sawah petani di masa depan," ungkapnya. Proses perbanyakan ini melibatkan tim peneliti dari Pusat Riset Tanaman Pangan yang memantau pertumbuhan secara intensif. Salah satu tahap krusial adalah roguing, yaitu pembersihan tanaman menyimpang, untuk memastikan kemurnian benih tetap terjaga sebelum didistribusikan ke industri perbenihan.
Dalam dunia pertanian modern, pendekatan inovatif seperti ini menjadi sangat penting mengingat kompleksitas tantangan yang dihadapi. Namun, inovasi tidak akan berarti jika tidak sampai ke tangan petani. Di sinilah pentingnya hilirisasi, sebuah tahap yang sering menjadi titik lemah dalam ekosistem riset. BRIN berupaya menjawab tantangan ini melalui kemitraan dengan sektor swasta. Melalui skema lisensi perlindungan varietas tanaman, hasil riset didorong untuk masuk ke dalam sistem industri perbenihan nasional. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan inovasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas riset, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem yang memungkinkan hasil riset berkembang dan digunakan secara luas. Industri perbenihan menjadi jembatan penting yang menghubungkan laboratorium dengan lahan pertanian.
Mulyadi menekankan bahwa kemitraan ini menjadi kunci agar riset tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah semata. Dengan dukungan industri, benih unggul dapat diproduksi dalam jumlah besar dan didistribusikan secara lebih cepat dan efisien. Pada titik ini, sains mulai menunjukkan wajahnya yang paling nyata, yaitu memberikan solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian, mulai dari perubahan iklim hingga alih fungsi lahan, pendekatan berbasis inovasi seperti ini memberikan harapan baru. Hal ini tidak semata menawarkan jalan pintas, tetapi menunjukkan bahwa dengan investasi pada ilmu pengetahuan, ketahanan pangan dapat dibangun secara lebih kokoh. Panen di Subang menjadi pengingat bahwa masa depan pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau jumlah tenaga kerja, tetapi juga oleh kemampuan mengelola pengetahuan dan teknologi. Ketika sains, kebijakan, dan industri berjalan seiring, maka upaya menuju kedaulatan pangan tidak lagi menjadi sekadar wacana, melainkan proses yang terus bergerak maju, perlahan namun pasti. (Sumber: Antara)











