
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Hery Gunardi, memaparkan evolusi signifikan dalam industri perbankan nasional yang kini bertransformasi dari lembaga intermediasi tradisional menjadi perusahaan yang berpusat pada teknologi. Pergeseran ini didorong oleh perkembangan pesat teknologi informasi dan munculnya inovasi dalam financial technology (fintech), yang secara fundamental mengubah perilaku nasabah dalam bertransaksi. Era digitalisasi ini semakin dipercepat oleh dampak pandemi COVID-19, yang membatasi aktivitas fisik dan mendorong nasabah untuk beralih secara masif ke layanan perbankan digital, terutama mobile banking.
Data dari Bank Indonesia menunjukkan lonjakan pengguna baru internet dan mobile banking selama pandemi, mencapai kisaran 50 hingga 60 juta pengguna baru. Fenomena ini menjadi bukti nyata adopsi digital yang masif di kalangan masyarakat. Menjawab tren ini, BRI telah proaktif dalam mendorong transformasi digitalnya. Salah satu wujud nyatanya adalah pengembangan super apps BRImo, yang kini telah memiliki lebih dari 60 juta pengguna aktif. Aplikasi ini mencatat nilai transaksi tahunan yang luar biasa, mencapai Rp 7.500 triliun, dengan rata-rata transaksi harian mencapai Rp 32 triliun. Angka ini menggarisbawahi peran sentral BRImo dalam ekosistem digital BRI.
Selain BRImo, BRI juga terus memperkuat penetrasi layanan digitalnya melalui berbagai kanal. Penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai metode pembayaran digital yang efisien terus digalakkan. Perluasan jaringan Electronic Data Capture (EDC) juga terus dilakukan untuk mempermudah transaksi non-tunai di berbagai titik penjualan. Lebih jauh lagi, BRI juga mengandalkan kekuatan jaringan agen BRILink yang kini telah mencapai 1,2 juta agen, menjangkau hingga ke pelosok desa. Keberadaan agen BRILink ini menjadi solusi penting untuk inklusi keuangan, memberikan akses layanan perbankan dasar bagi masyarakat di daerah terpencil.
Tidak hanya fokus pada segmen ritel, BRI juga mengembangkan solusi digital yang komprehensif untuk segmen korporasi. Platform digital QLola dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan transaksi dan pengelolaan keuangan perusahaan. Hery Gunardi mengungkapkan bahwa platform QLola telah mencatat nilai transaksi tahunan yang signifikan, mencapai sekitar Rp 98 triliun. Kapasitas transaksi yang besar ini menunjukkan efektivitas QLola dalam melayani kebutuhan korporasi dan memberikan nilai tambah bagi bisnis mereka. Transformasi ini merupakan sebuah keniscayaan yang harus disikapi secara optimal oleh seluruh pelaku industri perbankan untuk tetap relevan dan kompetitif di era digital yang terus berkembang.











