
Nilai tukar rupiah kembali tertekan, mencapai level mengkhawatirkan di bank-bank asing asal Singapura. Bank UOB Indonesia, Bank DBS Indonesia, dan Bank OCBC Indonesia tercatat menjual dolar Amerika Serikat (AS) dengan kurs mendekati Rp 17.700. Fenomena ini menjadi sorotan di tengah sentimen negatif yang terus membayangi pasar keuangan, baik domestik maupun global.
Data yang dihimpun dari situs web masing-masing bank pada Selasa (12/5/2026) menunjukkan pelemahan rupiah yang signifikan. Bank UOB Indonesia, per pukul 08.12 WIB, mematok kurs jual dolar AS di angka Rp 17.668. Tak lama berselang, pada pukul 10.16 WIB, Bank DBS Indonesia bahkan mencatatkan kurs jual dolar AS mencapai Rp 17.689. Puncaknya, Bank OCBC NISP pada pukul 11.23 WIB menjual dolar AS dengan kurs Rp 17.612. Angka-angka ini jelas menunjukkan tekanan jual yang kuat terhadap mata uang Garuda.
Perbandingan kurs di bank-bank asing tersebut dengan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) memperlihatkan jurang pemisah yang lebar. Di bank sentral, kurs transaksi rupiah pada hari yang sama tercatat masih berada di level Rp 17.502 per dolar AS. Posisi kurs pada bulan Mei ini bahkan menjadi yang terendah kedua sepanjang bulan tersebut, setelah rekor terendah sebelumnya pada tanggal 6 Mei yang menembus Rp 17.512. Secara historis, pelemahan rupiah kali ini merupakan salah satu yang terdalam.
Kontras dengan bank asing asal Singapura, bank-bank BUMN di Indonesia masih menjaga nilai tukar rupiah relatif mendekati kurs Bank Indonesia, yakni di kisaran Rp 17.500-an. Bank Mandiri, misalnya, menawarkan kurs jual dolar AS pada pukul yang berbeda di angka Rp 17.520 untuk special rate dan Rp 17.560 untuk tt counter. Bank BNI pada pukul 11.35 WIB menempatkan kurs jual dolar AS di Rp 17.560, baik untuk tt counter maupun special rate. Sementara itu, Bank BRI pada pukul 11.38 WIB menetapkan kurs jual dolar AS di Rp 17.615 untuk tt counter.
Perbedaan mencolok antara kurs di bank asing dan bank lokal ini mengindikasikan adanya dinamika pasar yang kompleks dan mungkin juga strategi yang berbeda dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar. Sentimen negatif yang terus berlanjut, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah. Analis pasar keuangan memprediksi bahwa volatilitas ini kemungkinan akan terus berlanjut jika faktor-faktor fundamental ekonomi belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Perhatian tertuju pada langkah-langkah kebijakan yang akan diambil oleh otoritas moneter dan fiskal untuk menstabilkan nilai tukar dan memulihkan kepercayaan pasar.











