BRI: Investor Jangka Panjang Pilih Saham Blue Chip di Tengah Koreksi IHSG

Budi Santoso

BRI: Investor Jangka Panjang Pilih Saham Blue Chip di Tengah Koreksi IHSG

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), Hery Gunardi, memberikan pandangan penting bagi para investor saham, khususnya di tengah tren koreksi yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saat ini, IHSG tercatat mengalami pelemahan sebesar 1,72% dan berada di level 6.976,84. Sektor finansial turut menjadi kontributor dalam koreksi ini, termasuk saham BBRI yang juga mengalami penurunan sebesar 1,63% ke harga Rp 3.020.

Dalam situasi pasar yang fluktuatif ini, Hery Gunardi menekankan pentingnya bagi investor jangka panjang untuk memprioritaskan saham-saham berkualitas tinggi atau yang dikenal sebagai saham blue chip. Menurutnya, saham-saham seperti BBRI, yang memiliki fundamental yang kuat, tidak perlu dikhawatirkan pergerakan harga jangka pendeknya atau gejolak IHSG. Ia menyarankan agar investor tidak terlalu terpaku pada naik turunnya harga saham harian, karena hal tersebut dapat menimbulkan stres dan tekanan yang tidak perlu. Sebaliknya, investasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan finansial jangka menengah dan panjang yang telah ditetapkan.

Hery Gunardi menjelaskan lebih lanjut bahwa saham blue chip secara inheren memiliki fundamental yang solid. Meskipun pasar saham mengalami tekanan, saham-saham ini tetap memiliki kemampuan untuk membagikan dividen secara rutin setiap tahunnya. Sebagai contoh nyata, ia mengutip pembagian dividen oleh BBRI. Meskipun harga saham BBRI mengalami koreksi lebih dari 17% sepanjang tahun 2026, perusahaan tetap mampu memberikan dividen yang lebih menarik dibandingkan instrumen investasi lain seperti deposito atau reksa dana.

Baca Juga :  PLN Bogor & Filantra Tingkatkan Ekonomi Desa Pasir Angin

Ia mengilustrasikan bahwa dividen yang dibagikan oleh BBRI dapat memberikan imbal hasil tahunan sekitar 10-11%. Angka ini jauh melampaui imbal hasil deposito yang biasanya hanya berkisar 7%, atau reksa dana pasar uang yang berada di kisaran 5,5-6%. Keunggulan ini menunjukkan bahwa investasi pada saham blue chip menawarkan potensi keuntungan yang signifikan, bahkan di saat pasar sedang mengalami tantangan.

Hery Gunardi meyakini bahwa saham-saham blue chip yang didukung oleh fundamental yang kokoh tidak akan terpengaruh secara permanen oleh tekanan harga jangka pendek. Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa ketika kondisi ekonomi makro membaik dan minat investor kembali meningkat, saham-saham kategori ini diprediksi akan mengalami peningkatan kinerja yang positif. Oleh karena itu, saran utamanya bagi para investor adalah untuk selalu memilih saham-saham blue chip yang memiliki pondasi finansial yang kuat, dan menghindari saham-saham yang tidak memiliki kualitas serupa. Pesan ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers virtual pada hari Kamis, 30 April 2026, sebagai panduan bagi para pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi yang bijak.

Also Read

Tinggalkan komentar