Blackout Sumatra: Angin Kencang Diduga Pemicu Utama

Budi Santoso

Blackout Sumatra: Angin Kencang Diduga Pemicu Utama

Pemadaman listrik massal di Sumatra kemungkinan besar dipicu oleh tekanan mekanis akibat angin kencang pada jaringan transmisi, terutama di titik sambungan kabel atau mid span jointing. Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ir. Djoko Darwanto, menilai faktor cuaca memiliki peran besar dalam peristiwa ini.

Djoko menjelaskan bahwa berdasarkan karakteristik gangguan yang mengarah pada tekanan mekanis di area sambungan konduktor transmisi, faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi. Hal ini sejalan dengan hasil investigasi awal gabungan Bareskrim Polri, Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor), dan PLN yang menyebutkan tiga kemungkinan penyebab putusnya kabel transmisi, yaitu stress thermal akibat cuaca, faktor pada area sambungan, serta tekanan mekanis akibat beban dan pengaruh angin.

Masyarakat seringkali menilai kondisi cuaca berdasarkan situasi di permukaan tanah. Namun, Djoko menekankan bahwa pada ketinggian konduktor transmisi, kecepatan angin dapat jauh lebih besar dan memicu osilasi kabel secara terus-menerus. "Di bawah mungkin terasa tidak ekstrem, tetapi di area konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik. Kondisi itu dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel," ujarnya.

Pergerakan berulang akibat terpaan angin ini dapat menambah tekanan pada area sambungan kabel, terutama ketika sistem sedang menerima beban tinggi. Titik yang mengalami putus diketahui berada pada area mid span jointing atau sambungan di tengah bentangan kabel transmisi. Area ini merupakan lokasi penyatuan dua konduktor yang disambung menggunakan metode dan pelindung khusus.

Baca Juga :  Menteri PU Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat Cilacap, Fokus Drainase

Menurut Djoko, titik sambungan menjadi salah satu area yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi. Hal ini dikarenakan area tersebut menerima kombinasi pengaruh getaran, perubahan temperatur, serta distribusi tekanan ketika kabel bergerak akibat angin. "Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh. Karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi," tegasnya.

Analisis Djoko ini memberikan pencerahan mengenai kerentanan jaringan listrik terhadap faktor cuaca, terutama pada komponen krusial seperti sambungan kabel. Pemahaman ini penting untuk upaya mitigasi dan pencegahan di masa mendatang agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. Perlu adanya kajian lebih mendalam mengenai ketahanan infrastruktur transmisi terhadap fenomena angin kencang dan dampaknya pada titik-titik sambungan. PLN dan pihak terkait perlu mempertimbangkan penguatan struktur sambungan kabel serta pemantauan kondisi cuaca yang lebih akurat dan dini untuk mengantisipasi potensi gangguan yang lebih luas. Selain itu, simulasi dan uji coba terhadap ketahanan jaringan transmisi di bawah berbagai skenario cuaca ekstrem juga menjadi langkah strategis yang perlu dipertimbangkan.

Also Read

Tinggalkan komentar