Biaya Logistik Sapi Kurban NTB Melonjak, Margin Peternak Kian Tertekan

Budi Santoso

Biaya Logistik Sapi Kurban NTB Melonjak, Margin Peternak Kian Tertekan

Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima Dompu Indonesia (APPSBDI) melaporkan adanya kenaikan signifikan pada biaya logistik pengiriman hewan kurban dari Pulau Sumbawa menuju wilayah Jabodetabek menjelang Idul Adha 2026. Lonjakan tarif sewa armada angkutan ini menjadi beban berat bagi para peternak karena menggerus margin keuntungan di tengah tingginya permintaan pasar. Ketua APPSBDI, Furqan Sangiang, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sewa truk jenis Fuso dan Tronton telah mencapai puluhan persen dibandingkan hari-hari normal.

Secara terperinci, harga sewa unit Fuso yang biasanya dipatok maksimal Rp18 juta, kini melonjak hingga Rp24 juta per unit. Sementara itu, armada Tronton yang pada periode reguler disewakan seharga Rp25 juta, saat ini melambung hingga menembus angka Rp32 juta. Fenomena musiman ini selalu berulang akibat ketimpangan antara ketersediaan armada dengan volume pengiriman sapi yang masif. Pulau Sumbawa sendiri ditargetkan mengirimkan sekitar 20.000 ekor sapi ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi guna memenuhi kebutuhan ibadah kurban masyarakat di ibu kota dan sekitarnya.

Besarnya volume pengiriman ini menuntut kesiapan logistik yang luar biasa. Dengan kapasitas angkut satu unit Tronton yang berkisar antara 25 hingga 30 ekor sapi, setidaknya dibutuhkan 600 unit armada selama musim pengiriman. Pada puncak distribusi, yakni sebulan sebelum Idul Adha, frekuensi lalu lintas logistik bisa mencapai 45 truk per hari atau setara dengan pengiriman lebih dari 1.100 ekor sapi setiap harinya. Ketergantungan terhadap armada dari luar daerah, seperti Jawa Timur, Bali, dan Lombok, membuat posisi tawar peternak menjadi lemah saat negosiasi harga sewa.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp 17.300, BI Perkuat Intervensi Lewat Cadangan Devisa

Kondisi ini memerlukan intervensi pemerintah daerah melalui skema satu pintu atau koordinasi terpadu dengan perusahaan transportasi besar guna menstabilkan harga logistik. Selain biaya angkut, peternak juga harus menghadapi risiko penyusutan bobot sapi selama perjalanan jauh yang memakan waktu berhari-hari. Meski demikian, distribusi tahun 2026 dinilai lebih kondusif dengan waktu antrean pelabuhan yang lebih singkat dan angka kematian ternak yang berhasil ditekan.

Data Balai Karantina NTB memperkuat fakta bahwa Jabodetabek tetap menjadi pasar utama. Sejak Januari hingga akhir April 2026, tercatat sebanyak 25.974 ekor sapi telah dikirim ke Jabodetabek melalui 1.046 kali frekuensi pengiriman. Angka ini jauh melampaui distribusi ke wilayah lain seperti Lombok yang hanya menyerap 3.020 ekor. Ketergantungan pasar Pulau Jawa terhadap pasokan sapi asal NTB menegaskan posisi strategis provinsi ini sebagai lumbung ternak nasional, namun efisiensi logistik tetap menjadi tantangan utama yang harus segera dibenahi demi kesejahteraan peternak lokal.

Also Read

Tinggalkan komentar