Rupiah Tembus Rp 17.300, BI Perkuat Intervensi Lewat Cadangan Devisa

Budi Santoso

Rupiah Tembus Rp 17.300, BI Perkuat Intervensi Lewat Cadangan Devisa

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tengah mengalami tekanan hebat hingga melampaui level psikologis baru. Berdasarkan data terbaru, mata uang Garuda sempat menyentuh angka Rp 17.300 per dolar AS, sebuah kondisi yang memicu respons cepat dari otoritas moneter tertinggi di tanah air. Gejolak ini memaksa Bank Indonesia (BI) untuk terjun langsung ke pasar guna menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tidak terpuruk lebih dalam akibat depresiasi yang terlalu tajam.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia, Juli Budi Winantya, mengungkapkan bahwa penurunan cadangan devisa menjadi konsekuensi logis dari langkah stabilisasi tersebut. Hingga akhir Maret 2026, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$ 148,2 miliar. Angka ini mengalami penyusutan dibandingkan posisi akhir Februari 2026 yang masih berada di level US$ 151,9 miliar. Penurunan sekitar US$ 3,7 miliar ini dipengaruhi oleh kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah, penerimaan pajak, serta intensitas intervensi yang meningkat tajam di pasar valuta asing.

Dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar di Bandung, Juli menjelaskan bahwa BI menerapkan strategi intervensi berlapis untuk meredam volatilitas. Langkah utama dilakukan melalui intervensi di pasar spot yang memberikan dampak langsung pada ketersediaan cadangan devisa. Namun, untuk memitigasi tekanan yang lebih besar terhadap cadangan devisa, BI juga mengoptimalkan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, BI secara aktif menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dirancang untuk menarik aliran modal asing (inflow) kembali masuk ke pasar keuangan domestik.

Baca Juga :  Redam Harga Tiket Pesawat, Pemerintah Tanggung PPN Kelas Ekonomi 2026

Lebih lanjut, Bank Indonesia melakukan diversifikasi intervensi dengan tidak hanya terpaku pada dolar AS. Upaya stabilisasi juga dilakukan melalui transaksi spot dan swap menggunakan mata uang utama lainnya, seperti Yen Jepang (JPY) dan Yuan China (CNY). Langkah ini merupakan bagian dari strategi penguatan mata uang lokal untuk mengurangi ketergantungan berlebih terhadap dolar AS, yang selama ini menjadi sumber utama fluktuasi kurs. Dengan adanya tambahan pasokan valas dari mata uang non-dolar, tekanan terhadap permintaan USD di pasar domestik diharapkan dapat berkurang secara signifikan.

Menghadapi dinamika global yang penuh ketidakpastian, Bank Indonesia menegaskan kesiapannya untuk menempuh penguatan kebijakan moneter lebih lanjut apabila diperlukan. Fokus utama bank sentral tetap konsisten pada dua pilar: menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan laju inflasi tetap berada dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan. Langkah pre-emptive dan forward looking ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku pasar bahwa otoritas moneter memiliki strategi yang solid untuk mengawal fundamental ekonomi nasional di tengah badai ekonomi global.

Also Read

Tinggalkan komentar