
Bank Indonesia (BI) menegaskan fokusnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bukan mempertahankan level kurs tertentu, meskipun rupiah melemah ke kisaran Rp 17.600 per dolar AS. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa stabilitas diukur dari volatilitas atau fluktuasi nilai tukar dalam periode tertentu, dengan menggunakan rata-rata pergerakan 20 hari untuk memastikan fluktuasi rupiah tetap terkendali. "Kata-katanya adalah stabilitas nilai tukar rupiah, bukan tingkat nilai tukar rupiah. Kita bicara stabilitas, bukan level," ujar Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.
Perry merinci bahwa volatilitas rupiah secara year-to-date saat ini berada di angka 5,4%. Angka ini dinilai masih relatif stabil dan terkendali jika dibandingkan dengan mata uang negara lain yang juga mengalami tekanan akibat gejolak global. "Kami cek tadi itu di dalam year-to-date sekarang, itu adalah 5,4%. 5,4%, which is actually itu masih relatif stabil. Lagi-lagi, mandatnya undang-undang stabilitas nilai tukar rupiah. Mari kita berdiskusi mengukur stabilitas, stabilitas bukan level, tapi ada bagaimana naik turunnya," tambahnya.
Penjelasan ini disampaikan Perry menyusul kritik dari sejumlah anggota DPR yang mempertanyakan klaim stabilitas rupiah oleh BI. Pelemahan rupiah yang menembus Rp 17.600 per dolar AS dinilai telah berdampak pada persepsi publik dan menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Anggota Komisi XI DPR RI, Charles Meikyansah, secara spesifik mempertanyakan indikator yang digunakan BI dalam menyatakan stabilitas rupiah tetap terjaga. Ia mendesak BI untuk mengkaji lebih serius pelemahan rupiah ini, dan apakah pelemahan tersebut masih dianggap biasa atau sudah masuk kategori tekanan fundamental.
Perry kembali menekankan pentingnya pemahaman yang benar mengenai konsep stabilitas nilai tukar. "Kami tadi cek ya, 5,4%. Nah, 5,4%, itu adalah seperti tadi. Itu adalah, mari kita memahami ini dan juga ikut menjelaskan kepada masyarakat bahwa adalah stabilitas ini bukan level-nya," tegasnya. BI berkomitmen untuk terus memantau pergerakan rupiah dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Fokus pada volatilitas yang terkendali ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pelaku ekonomi dan investor, serta meminimalisir dampak negatif dari gejolak eksternal terhadap perekonomian Indonesia. Upaya komunikasi yang transparan dan edukatif kepada publik juga menjadi prioritas agar masyarakat dapat memahami kebijakan BI secara utuh.











