BI All Out Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Global

Budi Santoso

BI All Out Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Global

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan komitmen penuh BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global. Tujuh langkah strategis yang dijalankan atas instruksi Presiden RI Prabowo Subianto digambarkan sebagai upaya "habis-habisan" atau "all out". Perry menekankan bahwa ini bukan sekadar rutinitas, melainkan tindakan luar biasa untuk menghadapi tantangan ekonomi saat ini.

"Ini bukan bisnis as usual. Tujuh langkah itu adalah langkah-langkah yang all out!" tegas Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (7/6/2026).

Salah satu upaya konkret yang dilakukan adalah intervensi pasar dalam skala besar. BI aktif melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestik Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Tindakan agresif ini, meskipun menurunkan cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 menjadi 148,2 miliar dolar AS, dianggap masih lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan intervensi. Perry menjelaskan bahwa cadangan devisa dikumpulkan pada saat arus masuk modal (inflow) besar, dan kini digunakan secara optimal saat terjadi arus keluar modal (outflow) yang signifikan.

"Cadangan devisa kan turun bulan lalu (Maret 2026) menjadi 148,2 miliar dolar AS, tapi 148,2 miliar itu lebih dari cukup. Kami ukur kebutuhan-kebutuhan untuk intervensi. Ingat! cadangan devisa itu kita kumpulkan pada saat panen inflow besar, makanya kita gunakan pada saat paceklik, pada saat outflow jumlahnya besar," terangnya.

Baca Juga :  IKN Tegas Berantas Aktivitas Ilegal Sejak 2023

Intervensi BI tidak hanya terbatas pada pasar domestik atau transaksi tunai. Perry mengungkapkan bahwa intervensi dilakukan secara global dan berkelanjutan, "around the world" dan "around the clock". Operasi NDF di pasar luar negeri dilakukan di pusat-pusat keuangan internasional seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York. "Itu namanya bukan business as usual. Itu all out," Perry menegaskan kembali.

Selain intervensi, BI juga memanfaatkan instrumen Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik dana asing masuk (capital inflow). Kebijakan ini dirancang untuk menyeimbangkan kondisi arus keluar modal yang terjadi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham. Data menunjukkan bahwa hingga saat ini (year to date/ytd), SRBI berhasil mencatatkan inflow sebesar Rp 78,1 triliun. Angka ini menjadi penyeimbang terhadap outflow di pasar saham yang mencapai Rp 38,6 triliun dan outflow di SBN sebesar Rp 11,7 triliun, meskipun SBN sendiri telah menunjukkan tren inflow dalam beberapa minggu terakhir.

Langkah-langkah strategis yang dijalankan oleh Bank Indonesia ini mencerminkan keseriusan dan kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi global yang kompleks, demi menjaga stabilitas dan kepercayaan terhadap mata uang Rupiah.

Also Read

Tinggalkan komentar