
PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra) menyatakan keyakinannya akan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid di tengah berbagai tantangan ekonomi makro, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan kenaikan suku bunga acuan. President Director Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus, mengakui bahwa kondisi ini memang memberikan pengaruh signifikan terhadap sektor asuransi secara keseluruhan, terutama pada segmen asuransi kendaraan bermotor.
"Pertama, kita melihat bahwa kenaikan suku bunga ini pasti akan berdampak pada inflasi dan penurunan daya beli. Penurunan daya beli ini sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu dan ini akan memberikan efek, salah satunya adalah terhadap permintaan kendaraan bermotor, yang utamanya didorong oleh pembelian secara kredit," jelas Maxim dalam sebuah konferensi pers di kantor Asuransi Astra, Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026).
Namun demikian, dari sisi portofolio investasi yang dimiliki oleh perusahaan, dampaknya tidak terlalu signifikan. Hal ini dikarenakan porsi aset yang berbasis Dolar AS tidak terlalu besar dalam keseluruhan portofolio Asuransi Astra. Maxim menegaskan bahwa strategi utama yang akan diandalkan untuk menjaga pertumbuhan kinerja perusahaan adalah melalui diversifikasi.
"Jadi, ketika kredit atau asuransi kendaraan bermotor sedang mengalami tekanan akibat penurunan daya beli masyarakat, kami memiliki produk asuransi lain yang kami tawarkan kepada masyarakat. Asuransi lain ini mencakup asuransi komersial dan asuransi kesehatan," lanjutnya.
Maxim merinci lebih lanjut bahwa segmen asuransi kendaraan bermotor, khususnya untuk kendaraan roda empat, masih berada di bawah tekanan. Hal ini tercermin dari penjualan kendaraan bermotor yang belum kembali ke level normal, yang biasanya mencapai sekitar satu juta unit per tahun, namun saat ini masih berada di bawah angka tersebut selama tiga tahun berturut-turut.
"Tetapi di lain pihak, kami mengharapkan asuransi komersial kami masih dapat bertumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonomi secara umum," tambahnya.
Asuransi komersial diprediksi akan mengalami pertumbuhan yang signifikan sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai cukup kuat ke depan. Dengan pertumbuhan ekonomi yang positif, kinerja perusahaan juga diproyeksikan akan ikut menguat.
"Ditambah lagi dengan asuransi kesehatan, kami melihat permintaan terhadap layanan kesehatan semakin meningkat kesadarannya di masyarakat. Kami fokus pada lini bisnis employee benefit untuk asuransi kesehatan, sehingga dengan strategi diversifikasi ini, kami masih memproyeksikan pertumbuhan ke depannya," ujar Maxim.
Data komposisi pendapatan premi Asuransi Astra menunjukkan bahwa segmen asuransi komersial memberikan kontribusi terbesar, yaitu sekitar 40-42%. Segmen asuransi kendaraan bermotor menyumbang sekitar 35%, sementara sisanya, sekitar 20-22%, berasal dari segmen asuransi kesehatan. Perusahaan memperkirakan komposisi ini tidak akan mengalami perubahan signifikan pada tahun ini. Meskipun menghadapi kondisi pasar yang dinamis, Asuransi Astra tetap optimistis dapat mencapai target pertumbuhan dengan mengandalkan strategi diversifikasi portofolio bisnisnya yang terbukti efektif.











