
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Indonesia menyoroti urgensi kolaborasi dan koordinasi di antara negara-negara ASEAN+3 untuk menghadapi ketidakpastian global yang semakin kompleks. Ketua DEN, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa ancaman geopolitik dan volatilitas energi menuntut respons kolektif guna menjaga stabilitas ekonomi kawasan. Situasi global saat ini ditandai dengan meningkatnya ketidakpastian, fragmentasi geopolitik yang tajam, konflik, serta ketidakstabilan yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi regional.
Menyadari tantangan tersebut, DEN bersama ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) menyelenggarakan seminar ekonomi regional di Jakarta. Forum ini menjadi wadah strategis bagi para pembuat kebijakan, akademisi, pelaku usaha, sektor keuangan, dan perwakilan organisasi internasional untuk bertukar pandangan mengenai perkembangan ekonomi kawasan serta merumuskan strategi adaptasi terhadap dinamika global. Luhut secara gamblang menguraikan berbagai faktor yang memicu kekhawatiran, termasuk dampak perang Rusia-Ukraina, perlambatan ekonomi global, kebijakan tarif timbal balik antarnegara, serta gangguan rantai pasok yang mulai memberikan tekanan baru terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara.
Dalam konteks ini, koordinasi dan kolaborasi regional menjadi elemen krusial. Luhut menggarisbawahi kerentanan negara-negara ASEAN yang sangat bergantung pada pasokan energi dan bahan baku industri dari Timur Tengah. Ketergantungan ini menjadikan kawasan rentan terhadap gejolak geopolitik global, terutama jika terjadi gangguan pada jalur perdagangan energi dunia yang vital, seperti Selat Hormuz. Ia memberikan ilustrasi konkret mengenai potensi dampak fluktuasi harga minyak terhadap anggaran negara. Jika harga minyak rata-rata mencapai 90 dolar AS per barel, sementara anggaran negara dipatok pada 70 dolar AS, akan timbul selisih 20 dolar AS yang berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga sekitar Rp 150 triliun. Oleh karena itu, pemerintah diimbau untuk terus mewaspadai perkembangan harga energi global dalam beberapa bulan mendatang.
Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan global, Luhut optimis terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya masih relatif kuat. Ia merujuk pada defisit transaksi berjalan yang tetap rendah, sektor perbankan yang terjaga stabilitasnya, serta permintaan domestik yang terus menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. "Meskipun ada tantangan global dan volatilitas nilai tukar, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat," ujar Luhut, memberikan sinyal positif di tengah ketidakpastian.
Lebih lanjut, pemerintah terus berupaya meningkatkan daya saing dan memperkuat transparansi tata kelola melalui percepatan deregulasi. Inisiatif digitalisasi pemerintahan juga digalakkan untuk menekan inefisiensi operasional, sekaligus meminimalkan potensi korupsi dalam layanan publik dan pengadaan barang/jasa pemerintah. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkokoh resiliensi ekonomi Indonesia dalam menghadapi gejolak eksternal dan menjaga momentum pertumbuhan.











