AS & China Redam Lonjakan Harga Minyak Dunia

Budi Santoso

AS & China Redam Lonjakan Harga Minyak Dunia

Amerika Serikat (AS) dan China memainkan peran krusial dalam menstabilkan harga minyak mentah global yang bergejolak akibat potensi gangguan rantai pasok dari Timur Tengah. Kedua negara adidaya ini sepakat untuk berupaya mencegah lonjakan harga minyak lebih lanjut, terutama dalam skenario konflik Iran yang dapat berujung pada penutupan Selat Hormuz. Pasar minyak global berisiko kehilangan sekitar 10 juta barel per hari (bpd) ekspor dari kawasan Teluk Persia jika Iran memblokade Selat Hormuz. Angka ini setara dengan 10% konsumsi minyak dunia dan berpotensi menjadi gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern.

Dalam konteks ini, posisi strategis China sebagai importir minyak terbesar di dunia dan AS sebagai produsen serta eksportir minyak terkemuka, memberikan mereka pengaruh signifikan. Keduanya memanfaatkan pengaruh tersebut untuk menutupi kesenjangan pasokan yang diproyeksikan. AS, sebagai produsen minyak terbesar, telah meningkatkan ekspornya hingga 3,5 juta barel per hari selama periode potensi konflik Iran. Sementara itu, China menunjukkan komitmen dengan memangkas impor minyaknya hingga 3,6 juta barel per hari.

Secara agregat, langkah-langkah yang diambil oleh AS dan China ini telah berhasil menutupi sekitar 70% dari potensi kekurangan ekspor minyak dari negara-negara Teluk Persia. Negara-negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, dan India juga turut berkontribusi dengan menekan impor minyak mereka hingga 3,6 juta barel per hari.

Baca Juga :  KKP Buka Lowongan 20 Ribu Awak Kapal, Pendaftaran Mei

Analis Deutsche Bank, Michael Hsueh, mengutip dari CNBC, menyatakan bahwa AS dan China telah memberikan penyesuaian penting yang mengimbangi gangguan ekspor dari Teluk Persia. "Itulah mungkin mengapa harga minyak mentah Brent, patokan internasional, belum melonjak hingga US$ 120 per barel," ujarnya. Pandangan senada disampaikan oleh ahli strategi komoditas Morgan Stanley, Martijn Rats, yang menilai pemangkasan impor minyak China sebagai faktor paling signifikan dalam menahan kenaikan harga minyak dunia. "Pengurangan impor China adalah hal yang luar biasa dan komponen terpenting yang menjelaskan mengapa harga minyak tidak lebih tinggi," ungkap Rats.

Namun, ia juga menyuarakan kekhawatiran mengenai keberlanjutan strategi ini. "Pertanyaannya adalah apakah AS dan China dapat mempertahankan ekspor yang lebih tinggi dan impor yang lebih rendah hingga Selat Hormuz dibuka kembali," tambahnya.

Menurut Badan Informasi Energi AS, per Desember 2025, China memiliki cadangan minyak strategis terbesar di dunia, mencapai 1,4 miliar barel. Cadangan ini diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan energinya selama beberapa bulan, bahkan hingga akhir tahun. Di sisi lain, persediaan minyak AS mengalami tekanan akibat lonjakan ekspor. Pada Maret, AS sepakat untuk menggunakan 172 juta barel dari cadangannya sebagai respons terhadap guncangan harga minyak. Penting dicatat bahwa pemenuhan lonjakan ekspor AS ini sebagian besar berasal dari persediaan, termasuk cadangan strategis nasional, bukan dari peningkatan produksi minyak yang saat ini diperkirakan mencapai 413 juta barel.

Baca Juga :  Harga Minyak Diprediksi Lonjak ke $140 Akibat Ketegangan Iran

"Kemampuan AS untuk mempertahankan tingkat ekspor yang tinggi ini sulit untuk diukur, tetapi tampaknya berada di bawah tekanan yang lebih besar," pungkas Rats. (igo/ara)

Also Read

Tinggalkan komentar