
Harga minyak dunia berpotensi mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai 140 dolar AS per barel. Prediksi ini muncul seiring dengan sikap tegas Iran yang menyatakan tidak akan membuka Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan, kecuali Amerika Serikat (AS) mengakhiri blokade maritimnya. Juru bicara Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara gamblang menyalahkan pemerintah AS atas potensi kenaikan harga minyak ini, mengutip bahwa AS menerima "nasihat sampah" dari pihak-pihak seperti Menteri Keuangan Scott Bessent. Ghalibaf menyoroti peran Bessent dalam mendorong teori blokade yang telah memicu harga minyak ke level 120 dolar AS, dan memperkirakan kenaikan lebih lanjut ke 140 dolar AS.
Ghalibaf tidak berhenti di situ, ia juga melontarkan ejekan kepada Menteri Pertahanan dan pemerintah AS. Melalui unggahan di akun X-nya, ia menyindir upaya AS untuk memblokade Iran dengan kalimat, "Semoga berhasil memblokade negara (Iran) dengan perbatasan seperti itu." Sindiran ini merujuk pada panjangnya garis perbatasan Iran yang sangat luas. Ia membandingkan upaya blokade AS dengan pembangunan dua dinding imajiner di Amerika Serikat, yaitu dari New York ke Pantai Barat dan dari Los Angeles ke Pantai Timur. Total jarak kedua dinding imajiner tersebut diperkirakan mencapai 7.755 kilometer, namun Ghalibaf menekankan bahwa panjang ini masih 1.000 kilometer lebih pendek dari total panjang perbatasan Iran. Pernyataan ini menggarisbawahi kesulitan logistik dan strategis bagi AS jika mencoba menerapkan blokade terhadap Iran.
Krisis yang terjadi di Selat Hormuz memang telah memberikan dampak nyata pada pasar minyak global. Pekan ini saja, harga minyak dunia telah menembus angka di atas 110 dolar AS per barel. Situasi ini semakin diperparah dengan sikap Iran yang tetap teguh pada pendiriannya dalam merespons blokade maritim AS. Bahkan, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, melalui pesan yang dibacakan oleh seorang presenter televisi Iran, menegaskan bahwa satu-satunya tempat bagi AS di Teluk Persia adalah "di bawah dasar laut." Pernyataan keras ini menunjukkan eskalasi ketegangan antara Iran dan AS, serta potensi konflik yang lebih luas di kawasan strategis tersebut.
Ketidakpastian pasokan minyak akibat potensi penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk sepertiga pasokan minyak mentah dunia, menjadi pemicu utama kenaikan harga. Komentar Ghalibaf yang merujuk pada nasihat dari Bessent mengindikasikan adanya perdebatan internal di dalam pemerintahan AS mengenai strategi kebijakan luar negeri terhadap Iran. Jika AS tetap pada jalurnya dan tidak mengubah pendekatan blokade maritimnya, maka ancaman kenaikan harga minyak lebih lanjut ke level 140 dolar AS per barel tampaknya bukan sekadar retorika, melainkan sebuah kemungkinan yang semakin nyata. Para pelaku pasar energi global akan terus memantau perkembangan situasi ini dengan cermat, karena dampaknya akan terasa di seluruh perekonomian dunia.











