
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyerukan pentingnya penguatan ketahanan kawasan Asia di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pernyataan ini disampaikan AHY dalam sebuah forum yang dihadiri oleh pimpinan Temasek, investor, pengusaha, dan diplomat, di mana ia menyoroti berbagai tekanan global yang sedang dihadapi dunia. Mulai dari eskalasi konflik bersenjata seperti yang terjadi di Selat Hormuz, gangguan pada rantai pasok global, krisis energi yang terus berlanjut, hingga dampak nyata dari perubahan iklim, semua menunjukkan betapa rapuhnya sistem global saat ini. AHY mengingatkan bahwa guncangan pada sektor energi dapat dengan cepat merambat melintasi batas negara, menunjukkan keterkaitan yang erat antarnegara di dunia.
Meskipun dihadapkan pada tantangan tersebut, AHY melihat Asia masih memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia di masa depan. Peluang ini dapat diwujudkan jika negara-negara di kawasan tersebut mampu membangun ketahanan bersama. Menurutnya, pertumbuhan yang tangguh tidak hanya membutuhkan strategi, tetapi juga keberanian dalam mengambil keputusan dan konsistensi dalam implementasinya. Hal ini sejalan dengan tema Ecosperity 2026, ‘Powered by Innovation, Driven with Intent’, yang menekankan pentingnya inovasi dan kesengajaan dalam setiap langkah pembangunan.
AHY kemudian mengaitkan visi penguatan ketahanan ini dengan arah pembangunan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia memprioritaskan tiga pilar ketahanan utama: ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan air. Bagi Indonesia, keberlanjutan (sustainability) bukan sekadar konsep teoritis atau jargon global semata. Sebaliknya, ini adalah fondasi untuk memastikan masyarakat dapat hidup lebih aman, lebih sejahtera, dan lebih terlindungi dari berbagai ancaman. Fokus pada ketahanan ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun bangsa yang kuat dan mandiri.
Dalam kesempatan yang sama, Chairman Temasek Holdings, Teo Chee Hean, turut memperkuat pandangan AHY. Ia menyatakan bahwa kondisi geopolitik saat ini memiliki pengaruh signifikan terhadap pasar keuangan, iklim investasi, dan perdagangan global. Geopolitik bukan lagi sekadar isu politik semata, melainkan telah menjadi faktor penentu dalam pergerakan pasar, efisiensi rantai pasok, dan pengambilan keputusan strategis oleh negara-negara di seluruh dunia. Teo Chee Hean menekankan bahwa penguatan ketahanan di negara-negara Asia harus dilakukan tanpa mengabaikan prinsip kerja sama dan keterbukaan antarnegara. Sinergi dan kolaborasi tetap menjadi kunci untuk menghadapi tantangan global secara efektif dan membangun kawasan yang lebih tangguh serta stabil. Kerjasama yang erat antarnegara di Asia dapat menjadi katalisator untuk mengatasi kerentanan yang ada dan memanfaatkan potensi pertumbuhan yang luar biasa.











