Menkeu Purbaya Bereskan Internal Kemenkeu dan Pastikan APBN Aman

Budi Santoso

Menkeu Purbaya Bereskan Internal Kemenkeu dan Pastikan APBN Aman

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara blak-blakan mengungkapkan adanya dinamika internal yang sempat menghambat kinerjanya di Kementerian Keuangan. Purbaya mengaku merasa heran terhadap sejumlah pihak di lingkaran internal Kemenkeu yang secara sengaja menyebarkan narasi negatif mengenai dirinya. Ia dituduh sebagai sosok menteri yang tertutup dan bahkan disebut tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni. Menurut Purbaya, tuduhan-tuduhan tersebut sengaja diembuskan agar dirinya tidak dipertemukan dengan para investor internasional, dengan alasan kehadirannya justru akan mengacaukan kesepakatan atau merusak citra kementerian di mata global. Baginya, sabotase informasi semacam ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan upaya sistematis yang dapat merugikan diplomasi ekonomi Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Purbaya mengambil langkah tegas dengan melakukan pembersihan atau "perapian" terhadap oknum-oknum di internal kementerian yang dianggap menghambat koordinasi dan merusak alur komunikasi strategis. Langkah nyata dari tindakan tegas ini adalah pencopotan dua pejabat eselon I yang memegang posisi sangat vital. Pejabat tersebut adalah Luky Alfirman yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Jenderal Anggaran, serta Febrio Nathan Kacaribu yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal. Purbaya menegaskan bahwa soliditas internal sangat krusial untuk menjaga kredibilitas pemerintah di mata publik dan pelaku pasar. Ia tidak menginginkan adanya faksi-faksi di dalam tubuh Bendahara Negara yang justru bekerja melawan arah kebijakan pimpinan.

Baca Juga :  Wamenkop Dorong UMKM Manfaatkan Koperasi untuk Pemasaran Produk Lokal

Selain isu personal dan birokrasi, Purbaya juga memberikan klarifikasi mendalam mengenai kabar miring terkait ketahanan kas negara yang sempat memicu kekhawatiran publik. Sebelumnya beredar narasi menyesatkan yang menyebutkan bahwa posisi kas negara sebesar Rp 120 triliun hanya mampu membiayai kebutuhan operasional pemerintah selama dua pekan saja. Purbaya menegaskan bahwa informasi tersebut adalah misinformasi besar yang berpotensi meruntuhkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa angka Rp 120 triliun tersebut hanyalah sebagian dari total cadangan dana yang dimiliki pemerintah, yakni dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang saat ini diparkir di Bank Indonesia.

Secara keseluruhan, total dana likuid yang dikelola oleh kementerian sebenarnya mencapai Rp 420 triliun. Rinciannya, selain Rp 120 triliun di Bank Indonesia, terdapat dana sebesar Rp 300 triliun yang ditempatkan di berbagai perbankan komersial dalam bentuk deposito on call. Dana ini bersifat sangat fleksibel dan dapat ditarik sewaktu-waktu jika dibutuhkan untuk membiayai belanja negara atau intervensi ekonomi lainnya. Dengan ketersediaan dana yang melimpah tersebut, Purbaya menjamin bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini dalam keadaan sangat sehat dan mencukupi untuk mendukung berbagai program strategis nasional. Masyarakat diminta untuk tetap optimis dan tidak termakan oleh isu ketidakstabilan finansial negara, karena pemerintah masih memiliki amunisi yang sangat kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga :  Bantuan Pangan Diperpanjang, Fokus Beras 20 Kg per Penerima

Also Read

Tinggalkan komentar