
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mengalami koreksi signifikan, menembus level Rp 17.900 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, terutama stagnasi perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta lonjakan permintaan dolar AS dari sisi domestik. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah membuka perdagangan dengan pelemahan 39 poin atau 0,22 persen pada posisi Rp 17.878 per dolar AS. Namun, pada pukul 10.33 WIB, mata uang Garuda semakin tertekan hingga mencapai Rp 17.922 per dolar AS. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan indeks dolar AS yang mengalami gap up, serta harga minyak mentah jenis WTI crude oil di level 94,58 dan brent crude oil di angka 96,72.
Menurut Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, faktor eksternal utama yang membebani rupiah adalah ketidakpastian perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran. Iran menuding AS melakukan strategi licik dengan melancarkan serangan terhadap wilayah mereka saat proses sosialisasi kesepahaman perjanjian sedang berjalan, yang berujung pada serangan balasan dari Iran. Akar permasalahan konflik ini terletak pada penolakan AS terhadap pengembangan program pengayaan uranium oleh Iran, sementara Iran bersikeras melanjutkan program tersebut.
Situasi semakin memanas dengan ancaman Iran untuk turut serta dalam konflik di Timur Tengah antara Israel dan Lebanon, khususnya di Lebanon Selatan yang terus diserang oleh Israel. Ketegangan ini dipicu oleh serangan Israel yang telah menguasai sebagian besar wilayah Lebanon Selatan.
Selain isu geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah global juga menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Lonjakan harga minyak ini berpotensi meningkatkan inflasi, yang pada gilirannya dapat memengaruhi keputusan kebijakan suku bunga Bank Sentral AS. Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tingginya harga minyak menyebabkan biaya transportasi dan logistik meningkat, yang berimplikasi pada kenaikan inflasi. Hal ini, termasuk kenaikan harga gasoline di AS, berpotensi mendorong Bank Sentral AS untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunganya.
Menyikapi tren inflasi yang belum mereda, Ibrahim memprediksi Bank Sentral AS kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali di tahun 2026. Pernyataan salah satu pejabat Bank Sentral AS, Beth Hammack, yang menyatakan perlunya tindakan segera jika tren inflasi tidak terkendali, mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga oleh Gubernur Bank Sentral AS. Kenaikan suku bunga ini tentu akan memberikan tekanan lebih lanjut pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi internal, tingginya permintaan dolar AS juga turut berkontribusi pada pelemahan rupiah. Permintaan yang kuat ini bisa berasal dari berbagai sektor, seperti kebutuhan pembayaran utang luar negeri, impor, atau spekulasi pasar. Kombinasi antara ketidakpastian global dan permintaan domestik yang tinggi menciptakan tekanan ganda bagi rupiah, mendorongnya menuju level pelemahan yang lebih dalam. Para pelaku pasar kini menantikan perkembangan lebih lanjut dari dinamika geopolitik dan kebijakan moneter global untuk melihat arah pergerakan rupiah ke depan.











