Listrik Sumatera Pulih Bertahap Pasca-Blackout Besar

Budi Santoso

Listrik Sumatera Pulih Bertahap Pasca-Blackout Besar

Pemulihan sistem kelistrikan Sumatera pascagangguan transmisi interkoneksi harus dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian untuk menjaga stabilitas sistem tenaga listrik hingga pasokan kembali normal. Cakupan interkoneksi yang membentang ribuan kilometer serta melibatkan banyak pembangkit dan jaringan transmisi, pemulihan yang berlangsung dalam waktu relatif cepat dinilai menunjukkan penanganan yang cukup baik. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) M Kholid Syeirazi menilai pemulihan sistem interkoneksi berskala besar tidak dapat dilakukan secara instan karena seluruh komponen sistem harus kembali tersinkronisasi secara stabil.

"Pemulihan sistem kelistrikan skala besar memang harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Yang dikejar bukan sekadar cepat menyala, tetapi memastikan sistem kembali normal secara aman dan andal," ujar Kholid dalam keterangan, Ahad (31/5/2026). Ia menjelaskan, dalam sistem interkoneksi, kestabilan frekuensi menjadi indikator utama keseimbangan antara daya pembangkitan dan beban pelanggan. Ketika terjadi gangguan besar dan sejumlah pembangkit lepas dari sistem, frekuensi dapat turun drastis dan memicu efek domino pada jaringan kelistrikan.

"Kalau recovery dilakukan terlalu cepat tanpa sinkronisasi yang tepat, risikonya frekuensi kembali turun dan memicu pembangkit lepas lagi dari sistem. Itu yang harus dihindari," jelasnya. Oleh karena itu, proses pemulihan dilakukan secara bertahap dan terukur agar sinkronisasi antar pembangkit tetap terjaga, baik dari sisi frekuensi, tegangan, maupun sudut fasa sistem.

Pemadaman listrik massal (blackout) di sejumlah wilayah Sumatera pada Sabtu (23/5/2026) dipicu oleh gangguan pada sistem transmisi interkoneksi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV ruas Lubuk Linggau–Lahat, Sumatera Selatan. Berdasarkan investigasi awal, gangguan ini dipengaruhi oleh sambaran petir dan gangguan jaringan akibat penebangan pohon. Kejadian ini memicu ketidakseimbangan sistem kelistrikan dan berdampak pada pasokan listrik di Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Bagian Utara, hingga Aceh. Pedagang di Banda Aceh, misalnya, harus melayani pembeli dengan penerangan senter akibat pemadaman tersebut.

Baca Juga :  Agen BRILink Ubah Nasib, Raih Rumah Impian & Kuliahkan Anak

PT PLN (Persero) terus berupaya memulihkan pasokan listrik secara bertahap. Proses pemulihan yang memakan waktu ini menunjukkan kompleksitas sistem kelistrikan interkoneksi yang luas dan saling terhubung. Kestabilan frekuensi, tegangan, dan sudut fasa menjadi kunci utama dalam proses sinkronisasi ulang seluruh komponen sistem. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa ketika pasokan listrik kembali normal, sistem dapat beroperasi secara aman dan andal bagi seluruh pelanggan di Sumatera. Masyarakat dihimbau untuk bersabar dan memahami bahwa proses pemulihan ini membutuhkan ketelitian dan waktu.

Also Read

Tinggalkan komentar