
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyoroti kesenjangan pendanaan yang mengkhawatirkan di sektor pertanian terkait adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Sektor yang sangat vital bagi ketahanan pangan global ini hanya menerima sekitar 4 persen dari total anggaran yang dialokasikan untuk mengatasi krisis iklim. Pernyataan ini disampaikan menyusul rilis laporan bersama antara Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan FAO yang memaparkan dampak pemanasan global yang kian merusak sistem pangan, ekosistem, dan kehidupan manusia.
Laporan tersebut memberikan peringatan keras, memprediksi bahwa beberapa wilayah di dunia akan menghadapi situasi di mana suhu udara mencapai titik ekstrem, membuat aktivitas kerja di luar ruangan menjadi mustahil selama 250 hari dalam setahun. Menanggapi ancaman ini, WMO dan FAO secara tegas menekankan urgensi peningkatan sistem peringatan dini yang efektif dan penerapan praktik pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi pemanasan global.
Kaveh Zahedi, Asisten Direktur Jenderal dan Direktur Kantor Perubahan Iklim, Keanekaragaman Hayati, dan Lingkungan FAO, menjelaskan bahwa dampak negatif perubahan iklim terhadap sektor pertanian semakin memburuk setiap tahunnya. Ia memaparkan data yang mengkhawatirkan, yaitu setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celsius dapat menyebabkan penurunan hasil panen komoditas pertanian penting hingga 6 persen. Komoditas vital seperti beras, jagung, gandum, dan kedelai, yang secara kolektif menyumbang 60 persen asupan kalori dunia, dilaporkan telah mengalami penurunan produksi. Oleh karena itu, mempersiapkan para petani untuk menghadapi krisis iklim menjadi prioritas utama demi menjaga ketahanan pangan global.
Zahedi menekankan, "Petani tidak dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang tidak mereka ketahui akan terjadi. Oleh karena itu, sistem peringatan dini multi-bahaya adalah salah satu investasi paling cerdas yang dapat kita lakukan untuk melindungi petani dan ketahanan pangan dari panas ekstrem." Meskipun tantangan terkait akses internet dan ponsel masih ada di berbagai wilayah, sistem peringatan dini tetap menjadi alat yang paling krusial untuk melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan.
Hambatan akses ini dapat diatasi dengan memanfaatkan berbagai saluran komunikasi alternatif, seperti pesan singkat (SMS), radio komunitas, atau pengumuman yang disebarluaskan melalui struktur pemerintahan daerah terkecil. Yang terpenting, menurut Zahedi, adalah memastikan bahwa petani menerima informasi yang akurat dan tepat waktu, terlepas dari metode penyampaiannya.
Dukungan terhadap petani tidak boleh berhenti pada penyediaan sistem peringatan dini semata. Dukungan tersebut harus terintegrasi dengan panduan praktis yang memungkinkan petani untuk mengambil tindakan nyata. "Mereka membutuhkan lebih dari sekadar informasi tentang adanya panas ekstrem. Kita perlu melangkah lebih jauh dan menyampaikan apa yang sebenarnya dapat mereka lakukan," tegas Zahedi.
Ia menambahkan bahwa petani perlu dibekali pelatihan mengenai teknik-teknik praktis, seperti cara menjaga kelembapan tanah melalui praktik mulsa, strategi penghematan air, menggeser jadwal penyiraman tanaman ke jam-jam yang lebih sejuk, atau penggunaan jaring peneduh untuk melindungi tanaman dari paparan sinar matahari langsung yang berlebihan. "Saran yang praktis dan dapat ditindaklanjuti harus berjalan seiring dengan sistem peringatan dini," katanya.
Sayangnya, pendanaan iklim yang tersedia saat ini masih sangat jauh dari memadai untuk memenuhi kebutuhan sektor pertanian. Analisis FAO menunjukkan bahwa hanya sekitar 4 persen dari total pendanaan iklim publik yang dialokasikan untuk sektor pertanian dan upaya membangun ketahanan di bidang ini. Kesenjangan pendanaan ini menjadi tantangan besar dalam upaya melindungi sektor pertanian dari dampak perubahan iklim yang semakin nyata.











