Perbankan Nasional Tangguh Hadapi Ekonomi Global Bergejolak

Budi Santoso

Perbankan Nasional Tangguh Hadapi Ekonomi Global Bergejolak

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan pernyataan optimis mengenai ketahanan industri perbankan nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh tensi geopolitik dan volatilitas harga minyak. Ketahanan ini tercermin signifikan pada pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK), baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing (valas). Hingga April 2026, DPK secara agregat mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 11,39% secara tahunan (year on year/yoy). Dominasi pertumbuhan datang dari DPK dalam rupiah yang melesat 11,49% yoy. Pertumbuhan DPK rupiah ini didorong oleh peningkatan signifikan pada giro sebesar 23,25% yoy, diikuti oleh tabungan yang tumbuh 7,88% yoy, dan deposito yang mencapai 6,91% yoy.

Di sisi lain, DPK dalam valas juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 10,87% yoy hingga akhir April 2026. Rinciannya, giro valas tumbuh 3,15% yoy, tabungan valas melonjak 23,21% yoy, dan deposito valas mencatat pertumbuhan substansial sebesar 22% yoy. Pertumbuhan DPK valas ini sebagian besar didukung oleh segmen deposito, yang didorong oleh penawaran suku bunga yang kompetitif dari perbankan. Peningkatan suku bunga deposito valas ini merupakan insentif strategis yang diberikan kepada eksportir untuk mendorong mereka menempatkan dananya di dalam negeri, sekaligus mengelola likuiditas valas.

Secara total, jumlah rekening DPK tercatat mencapai 667.169.152 rekening, menunjukkan pertumbuhan sebesar 7,22% hingga akhir April 2026. Meskipun demikian, mayoritas dari angka tersebut masih didominasi oleh rekening dalam denominasi rupiah. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengonfirmasi adanya peningkatan porsi DPK valas terhadap total DPK sejak awal tahun 2026. Namun, beliau menekankan bahwa peningkatan ini masih dalam kategori wajar, sehingga porsi DPK valas terhadap total DPK tetap relatif stabil dan bergerak dalam kisaran 15%-16%.

Baca Juga :  Purbaya Optimistis Ekonomi Menggeliat, Pengangguran Berkurang 6 Bulan ke Depan

Selain DPK yang kuat, tingkat permodalan perbankan nasional, yang diukur dengan Capital Adequacy Ratio (CAR), juga berada pada level yang sangat memadai. CAR yang tinggi ini berfungsi sebagai bantalan (buffer) yang efektif untuk menyerap potensi risiko yang mungkin timbul. Kondisi ini diperkuat oleh likuiditas perbankan yang terjaga dengan baik. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) pada April 2026 tercatat sebesar 86,88%, menunjukkan penyaluran kredit yang efisien. Rasio Alat Likuid/NonCore Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/DPK (AL/DPK) masing-masing berada pada angka 111,13% dan 25,39%, mengindikasikan ketersediaan alat likuid yang memadai untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.

Lebih lanjut, OJK juga memantau Rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan yang secara konsisten berada di bawah ambang batas maksimum yang ditetapkan sebesar 20% dari modal bank. Hal ini menunjukkan bahwa eksposur langsung perbankan terhadap risiko nilai tukar mata uang asing relatif terkendali dan terjaga dengan baik. OJK tetap waspada terhadap potensi dampak sekunder (second round impact) yang dapat timbul dari peningkatan tekanan inflasi, baik dari inflasi impor maupun inflasi biaya dorong (cost-push inflation) akibat kenaikan harga minyak global. Namun demikian, OJK menilai fluktuasi permintaan valas yang terjadi merupakan bagian dari respons diversifikasi aset yang wajar dan terukur. (ahi/ara)

Also Read

Tinggalkan komentar