IHSG Anjlok 2,76% ke 6.144,35 di Sesi I

Budi Santoso

IHSG Anjlok 2,76% ke 6.144,35 di Sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan sesi I hari ini, Kamis (21/5), merosot hingga ke level 6.100-an. Data perdagangan dari RTI Business menunjukkan IHSG terkoreksi tajam sebesar 2,76%, mendarat di angka 6.144,35. Perjalanan indeks saham kebanggaan Indonesia ini berbanding terbalik dengan awal perdagangan, di mana IHSG sempat menunjukkan performa positif dengan bergerak di level 6.378,81. Perubahan tren yang drastis ini menandakan adanya tekanan jual yang kuat di pasar saham.

Selama sesi I perdagangan, aktivitas bursa tercatat cukup ramai dengan volume perdagangan mencapai 19,91 miliar saham. Nilai transaksi yang terhimpun pun tidak kalah fantastis, mencapai Rp 9,78 triliun. Jumlah transaksi saham yang diperdagangkan mencapai 1.285.918 kali, menunjukkan tingginya partisipasi investor dalam jual beli saham meskipun dalam kondisi pasar yang sedang menurun. Namun, sentimen pasar yang negatif tercermin dari perbandingan saham yang menguat dan melemah. Sebanyak 118 saham berhasil menguat, namun jumlah ini jauh tertinggal dibandingkan dengan 601 saham yang mengalami pelemahan. Sebanyak 94 saham lainnya dilaporkan stagnan, tidak menunjukkan pergerakan harga yang berarti. Jika dilihat secara akumulatif sepanjang tahun berjalan, IHSG tercatat telah melemah sebesar 28,94%, mengindikasikan tren bearish yang masih mendominasi pasar modal Indonesia.

Kondisi pelemahan yang dialami IHSG ini turut menyeret sejumlah saham ke jurang kerugian, bahkan beberapa di antaranya menyentuh Auto Reject Bawah (ARB). PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) menjadi salah satu saham yang terpuruk, dengan pelemahan mencapai 14,95% dan harganya terhenti di Rp 165 per saham. Tidak jauh berbeda, PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) juga mengalami koreksi tajam sebesar 14,72%, diperdagangkan pada harga Rp 695 per saham. Saham emiten milik taipan Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), juga tidak luput dari tekanan jual yang masif, melemah 14,65% ke level Rp 2.270 per saham.

Baca Juga :  Petani Sawit Protes RUU Ekspor Komoditas Lewat BUMN

Selain itu, saham yang terafiliasi dengan Bakrie Grup, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS), juga menunjukkan pelemahan yang signifikan sebesar 14,39%, dengan harga sahamnya berada di Rp 565 per saham. Emiten yang dikelola oleh Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), juga turut merasakan dampak pelemahan pasar, terkoreksi 13,50% ke harga Rp 705 per saham. Pelemahan yang dialami saham-saham ini, terutama yang menyentuh ARB, mengindikasikan adanya kekhawatiran investor terhadap prospek kinerja perusahaan atau sentimen pasar yang sangat negatif secara keseluruhan. Penurunan tajam ini juga bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti rilis data ekonomi yang kurang memuaskan, kekhawatiran terhadap dampak pandemi global yang berkelanjutan, atau isu-isu spesifik yang membebani emiten-emiten tersebut. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi di tengah kondisi pasar yang bergejolak ini.

Also Read

Tinggalkan komentar