
Uni Emirat Arab (UEA) mengambil langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz sebagai jalur ekspor minyak utama. Kantor Media Abu Dhabi mengumumkan percepatan pembangunan jalur pipa yang melintasi negara tersebut, sebuah proyek ambisius yang diperkirakan akan beroperasi penuh pada tahun 2027. Langkah ini diambil di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Teluk, di mana Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menghadapi tantangan keamanan yang signifikan.
Proyek Jalur Pipa Barat-Timur yang baru, yang dipimpin oleh Khaled bin Mohamed bin Zayed, bertujuan untuk menggandakan kapasitas ekspor ADNOC melalui pelabuhan Fujairah. Keputusan ini mencerminkan visi UEA untuk memastikan kelancaran pasokan energi global sekaligus melindungi aset energinya dari potensi gangguan di jalur laut yang krusial. Operasional pipa ini diharapkan mampu mengalirkan minyak mentah dari ladang-ladang minyak di daratan langsung ke terminal ekspor di Fujairah, menghindari risiko yang terkait dengan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Situasi di Selat Hormuz memang tengah memanas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini mengakui adanya ranjau laut di perairan tersebut. Ia menekankan bahwa kapal-kapal yang ingin melintasi selat ini wajib berkoordinasi dengan militer Iran. "Kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz jelas harus berkoordinasi dengan militer kami, karena adanya ranjau dan rintangan yang ada. Kami akan membimbing mereka, seperti yang telah kami lakukan dengan sejumlah kapal India. Navigasi yang aman adalah kebijakan kami," ujar Araghchi dalam sebuah konferensi pers.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran mengambil peran aktif dalam mengelola lalu lintas di Selat Hormuz demi keselamatan navigasi. Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa sekitar 30 kapal telah berhasil melintas di selat tersebut sejak Rabu (13/5/2026) malam di bawah pengawasan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran. Data dari platform pelacakan kapal Marine Traffic juga mencatat setidaknya empat kapal yang terkait dengan China melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir melalui koridor pelayaran "aman" yang disediakan oleh Iran.
Meskipun demikian, percepatan pembangunan jalur pipa oleh UEA menjadi bukti nyata dari upaya diversifikasi rute ekspor energi di tengah ketegangan regional. Dengan beroperasinya pipa baru ini, UEA tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pemasok energi global yang andal, tetapi juga menunjukkan kemampuan adaptasinya terhadap tantangan geopolitik yang dinamis di kawasan Timur Tengah. Proyek ini menjadi tonggak penting dalam strategi jangka panjang UEA untuk mengamankan kepentingan energinya dan menjaga stabilitas pasar energi dunia.











