
Suasana ramai terpantau di Toko Kue Satu Hati, Pasar Jatinegara, Jakarta, pada Sabtu (7/3/2026). Warga terlihat antusias memburu aneka kue kering yang menjadi hidangan wajib saat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Toko yang terletak di lantai dasar pasar tradisional ini mulai diserbu sejak dini oleh para pembeli yang ingin memastikan tidak kehabisan stok kue favorit mereka, seperti nastar, kue keju, putri salju, dan berbagai varian lainnya. Keputusan untuk berbelanja lebih awal ini diambil untuk menghindari antrean panjang dan potensi kehabisan stok, mengingat tingginya permintaan menjelang Lebaran.
Para pembeli mengaku memilih berbelanja di Toko Kue Satu Hati karena menawarkan harga yang relatif lebih terjangkau. Rentang harga yang ditawarkan berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, dengan variasi harga ditentukan oleh jenis kue serta kualitas bahan baku yang digunakan. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin menyajikan kue-kue lezat tanpa menguras kantong terlalu dalam. Pengelola toko pun tampaknya telah mengantisipasi lonjakan permintaan dengan menyiapkan stok yang memadai, meskipun kesadaran warga untuk berbelanja lebih awal menunjukkan tren yang semakin meningkat setiap tahunnya.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, mengemukakan pandangannya mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026. Menurutnya, angka positif ini sangat dipengaruhi oleh faktor musiman yang secara signifikan mendorong konsumsi masyarakat. Peningkatan aktivitas ekonomi ini terjadi seiring dengan berdekatan berbagai hari besar keagamaan dan perayaan budaya yang berlangsung sejak akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026.
"Ya itu karena adanya event yang sangat banyak, dari Desember ada Imlek, Lebaran, Nyepi semua menumpuk, sehingga perputaran ekonomi, konsumsi berjalan dan ada THR," ujar Budihardjo saat dihubungi Republika di Jakarta, Rabu (6/5/2026). Momentum ini memberikan dorongan kuat terhadap sektor ritel dan konsumsi, yang pada gilirannya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Budihardjo menambahkan, selain momentum musiman tersebut, pergerakan ekonomi juga turut didorong oleh pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah yang mulai diimplementasikan pada awal tahun. Program-program ini, termasuk stimulus pemerintah yang menyasar berbagai sektor, dinilai turut meningkatkan peredaran uang di masyarakat. "Hal itu bertepatan juga dengan program stimulus pemerintah yang mulai bergerak, mulai dari koperasi Merah Putih bangun-bangun tuh ada puluhan ribu, banyak orang bekerja, dapur (MBG), terus juga pembangunan perumahan," jelas Budihardjo, mengindikasikan adanya efek berganda dari berbagai kebijakan ekonomi yang dijalankan.
Namun demikian, Budihardjo mengingatkan adanya potensi risiko perlambatan konsumsi pasca periode hari besar berakhir. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya bagi pemerintah untuk menyiapkan langkah-langkah lanjutan yang strategis guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang telah tercapai. "Artinya semua program bergerak, ritel bergerak, konsumsi bergerak. Harusnya ini bagus, tapi akan berbahaya setelah Lebaran ini harus dilakukan sesuatu stimulus atau apa," tegasnya, menyarankan agar pemerintah tetap proaktif dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi ke depannya.











