
Presiden AS Donald Trump optimis kesepakatan damai dengan Iran segera tercapai dan Selat Hormuz akan kembali dibuka. Namun, pasar yang pernah dikecewakan janji-janji palsu selama tiga bulan terakhir bersikap skeptis. Trump mengumumkan di Truth Social bahwa kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, menanti finalisasi antara AS, Iran, dan negara-negara lain. Pertanyaan besar pun muncul: jika konflik AS-Iran berakhir dan Selat Hormuz dibuka, akankah harga minyak kembali ke level sebelum perang?
Para ahli memperkirakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bukanlah proses instan. Victoria Grabenwöger, analis minyak senior di Kpler, menekankan bahwa pembersihan hambatan logistik di selat tersebut akan memakan waktu lama. Produsen minyak akan memantau perkembangan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, menunggu kepastian Iran membuka selat dan menghentikan pungutan biaya tol. Perusahaan pelayaran juga perlu merasa aman untuk kembali beroperasi di jalur krusial ini, mengingat insiden sebelumnya di mana kapal-kapal terpaksa berbalik arah karena ketidakamanan. Biaya asuransi maritim yang melonjak ribuan persen juga menjadi penghalang, ditambah ancaman Iran memasang ranjau dan mengarahkan kapal melalui jalur yang ditentukan.
Secara historis, harga minyak mentah Brent kesulitan menembus US$ 94 per barel sejak pertengahan Maret 2026, bahkan kontrak berjangka sempat ditutup di atas US$ 100 per barel. Jika pasar optimistis terhadap perdamaian, uji coba batas bawah baru untuk minyak mentah dapat terjadi. Analis JPMorgan memprediksi harga minyak rata-rata US$ 97 per barel hingga akhir tahun 2026 jika Selat Hormuz dibuka Juni 2026. Michael Green dari Simplify Asset Management menyebutkan bahwa harga Brent perlu berada di kisaran US$ 60 agar harga bensin turun menjadi US$ 3 per galon, namun pasar berjangka tidak memperkirakan ini terjadi hingga 2032.
Semakin lama perdamaian bertahan dan produksi meningkat, harga minyak berpotensi turun lebih jauh. Namun, kantor berita Iran, Fars, mengingatkan bahwa kesepakatan Iran untuk mengizinkan kapal melewati selat kembali ke tingkat sebelum perang tidak serta merta berarti kondisi akan kembali seperti semula.
Menghidupkan kembali sumur minyak di Timur Tengah yang sebagian besar ditutup selama perang adalah tantangan teknik kompleks. Proses ini membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memastikan cadangan minyak mentah tidak runtuh, melibatkan pengeboran ulang, perbaikan besar-besaran, dan keseimbangan kembali injeksi air dan gas. Mengingat besarnya dan kedekatan sumur-sumur di wilayah tersebut, koordinasi antar perusahaan dan negara sangat krusial untuk menjaga tekanan injeksi yang konsisten. Selain itu, perbaikan kilang minyak yang rusak selama perang bisa memakan waktu bertahun-tahun.











