Tanah Abang Ramai Jelang Ramadhan, Tren Gamis Emerald Mendominasi

Budi Santoso

Tanah Abang Ramai Jelang Ramadhan, Tren Gamis Emerald Mendominasi

Pasar Grosir Tanah Abang, Jakarta, mulai dipadati pengunjung sepuluh hari menjelang Ramadhan 1447 Hijriah. Pedagang melaporkan rata-rata pembeli adalah pedagang dari berbagai daerah di Jabodetabek, Jawa, Sumatera, bahkan hingga Malaysia, yang ingin mengisi stok dagangan mereka. Permintaan produk busana mengalami peningkatan signifikan, berkisar antara 30 hingga 50 persen. Tren busana yang paling diminati untuk Ramadhan kali ini adalah gamis dengan rompi berwarna emerald.

Sementara itu, Mandiri Institute mencatat bahwa pola belanja masyarakat Indonesia mulai kembali normal setelah melewati puncak momentum Lebaran atau Idul Fitri 2026. Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), indeks belanja masyarakat sempat mencapai level tertinggi 124,3 poin pada 22 Maret 2026, yang bertepatan dengan periode Lebaran. Namun, angka tersebut kemudian mengalami moderasi menjadi 122,3 poin pada pekan pertama Mei 2026. Andre Simangunsong, Head of Mandiri Institute, menjelaskan bahwa perlambatan belanja ini bersifat moderat dan lebih bertahap dibandingkan tahun sebelumnya.

"Belanja masyarakat mengalami moderasi. Jadi, sampai 5 Mei kemarin, MSI mengalami moderasi ke titik 122,3 setelah lima pekan berturut-turut mengalami koreksi," ujar Andre dalam acara Mandiri Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Meskipun mengalami perlambatan, Andre menilai pola konsumsi masyarakat pada tahun 2026 ini menunjukkan tren yang lebih stabil dan lebih baik dibandingkan periode yang sama di tahun 2025. Pada tahun 2025, penurunan konsumsi pasca-Lebaran terjadi cukup tajam, meskipun kemudian diikuti oleh pemulihan yang kuat. Sebaliknya, pada tahun 2026, perlambatan belanja berlangsung lebih gradual, yang mencerminkan pola konsumsi yang lebih stabil.

Baca Juga :  BRI Insurance & PNM Tanam 7.000 Mangrove di Makassar

"Kalau kita bandingkan antara 2026 dengan 2025, memang kita lihat pada 2026 moderasi ini terlihat lebih gradual. Kalau tahun lalu itu terlihat, setelah efek puncak Lebaran, belanja masyarakat turun signifikan, tetapi rebound-nya juga signifikan," jelas Andre.

Lebih lanjut, Andre menambahkan bahwa setidaknya pada minggu kelima atau saat libur Hari Buruh, MSI sudah menunjukkan pertumbuhan positif secara mingguan. Hal ini mengindikasikan adanya pemulihan aktivitas belanja yang berkelanjutan.

Dari sisi kelompok pendapatan, Mandiri Institute mengamati bahwa pertumbuhan konsumsi masih sangat ditopang oleh kelompok masyarakat berpenghasilan atas. Pertumbuhan belanja kelompok kelas atas (upper) tercatat mencapai 5,3 persen secara tahunan pada tahun 2026, angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 3,1 persen. Sebaliknya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (lower) dan menengah (middle) justru mengalami perlambatan dalam pertumbuhan belanja mereka. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam pemulihan konsumsi pasca-Lebaran, di mana kelompok berpenghasilan lebih tinggi lebih cepat kembali berbelanja, sementara kelompok berpenghasilan lebih rendah masih menunjukkan perlambatan.

Perbedaan pola belanja antar kelompok pendapatan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kemampuan daya beli, prioritas pengeluaran, dan tingkat kepercayaan konsumen. Data dari Mandiri Institute ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai dinamika konsumsi masyarakat Indonesia pasca-Lebaran 2026, yang dapat menjadi masukan penting bagi para pembuat kebijakan dan pelaku bisnis dalam merumuskan strategi ke depan.

Baca Juga :  Pegadaian & SMBC Indonesia Perkuat ESG dengan Kerangka Pembiayaan Berkelanjutan 2026

Also Read

Tinggalkan komentar