
Neraca perdagangan Indonesia di awal tahun 2026 kembali mencatat surplus, melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 hingga Februari 2026. Kondisi ini, di tengah ketidakpastian global, memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa surplus neraca dagang menunjukkan kekuatan produksi domestik dan kemampuan penguasaan pasar internasional.
"Ada perubahan secara struktural dari ekspor kita yang memang banyak meningkat," ujar Faisal, Minggu (3/5/2026). Ia menambahkan bahwa kontributor terbesar surplus neraca perdagangan Indonesia didominasi oleh ekspor komoditas besi dan baja, serta produk turunan nikel. Fenomena ini merupakan dampak langsung dari kebijakan hilirisasi yang terus digalakkan oleh pemerintah. Meskipun demikian, Faisal menekankan bahwa sebagian besar nilai tambah yang dihasilkan masih pada tahap pengolahan awal. Potensi peningkatan nilai tambah yang lebih signifikan dapat dicapai jika produk-produk tersebut diolah lebih lanjut menjadi barang dengan nilai tambah lebih tinggi, yang pada gilirannya akan berkontribusi lebih besar terhadap total nilai ekspor.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan tren surplus neraca perdagangan Indonesia akan terus berlanjut. Ia memprediksi surplus pada Maret 2026 akan mengalami pelebaran menjadi sekitar US$ 2,77 miliar. Peningkatan ini didorong oleh perbaikan permintaan dari negara-negara mitra dagang, yang sebagian mempercepat pembelian dan menambah persediaan untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga serta gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan kumulatif periode Januari-Februari 2026 mencapai US$ 2,23 miliar. Surplus ini ditopang oleh kinerja positif perdagangan nonmigas yang mencapai US$ 5,42 miliar, sementara perdagangan migas mengalami defisit sebesar US$ 3,19 miliar. Tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat dengan US$ 3,11 miliar, diikuti oleh India dengan US$ 2,29 miliar, dan Filipina dengan US$ 1,54 miliar.
Secara rinci, surplus pada Januari-Februari 2026 didominasi oleh komoditas lemak dan minyak hewan/nabati yang mencapai US$ 6,49 miliar. Diikuti oleh bahan bakar mineral dengan US$ 4,01 miliar, besi dan baja dengan US$ 2,70 miliar, nikel dan barang turunannya dengan US$ 1,97 miliar, serta alas kaki dengan US$ 0,99 miliar. Performa ekspor yang kuat ini menjadi indikator positif bagi ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tantangan global.











