
Desa Sukamantri, terletak di lereng Gunung Salak, Bogor, menjelma menjadi desa mandiri yang menggerakkan ekonomi masyarakatnya melalui komoditas tanaman hias yang mampu menembus pasar global. Desa seluas 638 hektar ini, berlokasi di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, telah membuktikan potensinya sejak didirikan pada tahun 1978. Perjalanan dari Stasiun Bogor menuju desa ini memakan waktu sekitar 30 menit berkendara dalam kondisi lalu lintas lancar.
Setibanya di Kantor Desa Sukamantri pada Kamis, 21 Mei 2026, suasana desa tampak sibuk melayani warga dan tamu. Tim detikcom berkesempatan meninjau langsung sentra tanaman hias yang menjadi keunggulan desa. Berjarak sekitar 1 hingga 1,5 kilometer dari kantor desa, sentra ini dapat ditempuh dalam 5-10 menit perjalanan. Jalanan desa pun terpantau rapi. Di pusat pembibitan dan gerai tanaman hias siap jual ini, berbagai jenis tanaman seperti Anthurium Kuping Gajah, Philodenron, dan Aglaonema mudah ditemui.
Masyarakat Desa Sukamantri telah lama bergerak di bidang tanaman hias, dengan penjualan yang melonjak drastis pada tahun 2020 di tengah pandemi COVID-19. Potensi ini dimaksimalkan oleh BUMDes Bersama Muda Sejahtera melalui program pelatihan bagi para petani. Kaur Keuangan Desa Sukamantri, Sudrajat, menjelaskan bahwa BUMDes secara rutin mendatangkan narasumber untuk memberikan pelatihan budidaya tanaman, yang kini telah membuat para petani menjadi mandiri.
Kesuksesan Desa Sukamantri dalam menembus pasar ekspor menarik perhatian program Desa BRILian yang diselenggarakan oleh BRI. Program ini bertujuan memberdayakan desa unggulan sebagai percontohan pengembangan ekonomi pedesaan demi kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Kaur TU dan Umum Desa Sukamantri, Nur Amalia, menyatakan bahwa ekspor tanaman hias sudah berjalan sebelum mengikuti program Desa BRILian, namun program ini memberikan nilai tambah signifikan.
Sudrajat menambahkan bahwa BRI melakukan penilaian khusus agar sebuah desa dapat menjadi bagian dari Desa BRILian, dengan tujuan utama mendongkrak potensi desa yang sudah berjalan. Di Sukamantri, potensi terbesar adalah ekspor tanaman hias. Program BRILian membantu desa yang mungkin kesulitan mengeksplorasi potensinya lebih luas. Dampak program ini terasa nyata, meningkatkan popularitas Desa Sukamantri dari tingkat lokal hingga nasional.
Nur Amalia mengamini, program BRI sangat membantu masyarakat dan potensi desa menjadi lebih tereksplorasi. Kini, Desa Sukamantri tidak hanya dikenal di lingkup terdekat, tetapi juga di tingkat nasional berkat program Desa BRILian. Selain tanaman hias, usaha warga lainnya meliputi pabrik tahu, peternakan kambing, agen gas, agen BRILink, dan peternakan ayam petelur.
Desa Sukamantri berhasil masuk peringkat 15 batch ketiga program Desa BRILian pada tahun 2024. Dana penghargaan dari program ini dimanfaatkan untuk pengembangan usaha yang ada di BUMDes, langsung masuk ke rekening BUMDes untuk modal pengembangan. Dampak positif juga dirasakan petani tanaman hias, yang menerima bantuan berupa perlengkapan pengembangan tanaman hias dari BUMDes. Jaelani, salah seorang pekerja di sentra tanaman hias, menunjuk jaring paranet sebagai bukti bantuan dari BUMDes Sukamantri.











