Starbucks PHK 300 Karyawan Korporat AS, Fokus Transformasi Bisnis

Budi Santoso

Starbucks PHK 300 Karyawan Korporat AS, Fokus Transformasi Bisnis

Starbucks kembali mengumumkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang signifikan, kali ini menyasar 300 pekerjaan di tingkat korporat Amerika Serikat. Langkah drastis ini merupakan bagian dari strategi transformasi bisnis perusahaan yang bertujuan untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan. Pengumuman yang disampaikan pada Jumat (15/5/2026) dini hari ini juga dibarengi dengan komitmen Starbucks untuk membayar pesangon sebesar 120 juta dolar AS kepada karyawan yang terdampak, serta mencatat pengurangan nilai buku properti sebesar 280 juta dolar AS.

Ini bukan kali pertama Starbucks melakukan perampingan. Sejak program transformasinya dimulai, perusahaan ini telah beberapa kali melakukan PHK, termasuk pemutusan hubungan kerja terhadap 1.100 pegawai korporat yang diumumkan pada Februari tahun lalu. Kali ini, PHK menyasar karyawan yang bekerja di kantor pendukung regional. Starbucks berencana untuk mengonsolidasikan sejumlah kantor pendukung regional di AS, yang berarti penutupan beberapa kantor di kota-kota besar seperti Atlanta, Burbank, Chicago, dan Dallas. Lebih lanjut, perusahaan juga sedang meninjau organisasi pendukung internasionalnya dan memperkirakan akan ada pemangkasan pekerjaan tambahan di luar Amerika Serikat.

Menurut pernyataan resmi perusahaan, langkah ini diambil untuk mempertajam fokus, memprioritaskan pekerjaan yang paling penting, mengurangi kompleksitas operasional, dan yang terpenting, menekan biaya. Starbucks menegaskan bahwa kebijakan ini tidak akan berdampak pada operasional gerai kopi mereka yang menjadi ujung tombak interaksi dengan pelanggan.

Baca Juga :  The Economist Kritik Prabowo: Adu Ideologi Ekonomi Nasional vs Pasar Bebas

Perlu dicatat bahwa dalam beberapa kuartal terakhir, biaya operasional Starbucks memang menunjukkan peningkatan. Hal ini sejalan dengan strategi transformasi bisnis yang digagas oleh CEO Brian Niccol, yang lebih berfokus pada optimalisasi operasional gerai. Strategi ini mencakup investasi besar dalam penambahan staf barista untuk meningkatkan kualitas layanan di setiap gerai.

Meskipun ada tantangan dalam hal biaya operasional, para eksekutif Starbucks pada bulan lalu sempat menyatakan bahwa perusahaan telah mencapai tonggak penting dalam proses transformasinya. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan penjualan yang tercatat sebagai yang terkuat dalam lebih dari dua tahun terakhir. Namun, di balik pencapaian tersebut, margin laba operasional perusahaan tercatat mengalami penurunan hampir setengahnya sejak transformasi bisnis dimulai pada akhir tahun 2024. PHK ini menjadi indikasi bahwa perusahaan masih terus berupaya menyeimbangkan antara investasi untuk pertumbuhan dan efisiensi biaya operasional.

Also Read

Tinggalkan komentar