
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan strategi agresif untuk meredam pelemahan Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) dengan menyuntikkan dana sebesar Rp 2 triliun per hari ke pasar obligasi domestik. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap capital outflow yang signifikan, terutama di pasar surat utang negara, yang tercatat mencapai Rp 21 triliun antara Januari hingga April. Sri Mulyani menegaskan bahwa pemerintah memiliki kapasitas finansial yang memadai untuk menjaga stabilitas pasar obligasi dan mengembalikan yield ke level sebelumnya. Dana intervensi ini tidak hanya bersumber dari pengelolaan kas pemerintah, termasuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang kini membengkak menjadi Rp 434 triliun, tetapi juga dari berbagai sumber pendanaan optimal lainnya yang tidak dirinci secara spesifik.
Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, menunjukkan komitmen kuat untuk mempertahankan nilai tukar Rupiah agar tidak terus tertekan oleh penguatan Dolar AS. Sri Mulyani secara gamblang menyatakan bahwa "napas" keuangan pemerintah masih panjang berkat besarnya SAL yang dikelola. Ia juga menekankan bahwa ketersediaan dana untuk intervensi di pasar modal sangat mencukupi, bahkan jika situasi mendesak, pemerintah dapat mengandalkan bantuan dari badan usaha milik negara di bawah naungan Kementerian Keuangan seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Indonesia Investment Authority (INA). Dengan demikian, pemerintah belum memerlukan keterlibatan pihak eksternal seperti Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk menstabilkan pasar obligasi dan memulihkan kepercayaan investor asing.
Fokus utama saat ini adalah manajemen kas yang efektif untuk memastikan harga obligasi tetap stabil. Sri Mulyani menyatakan bahwa ia mampu menangani situasi ini secara mandiri dan belum perlu "memanggil" bantuan lain. Namun, ia menegaskan bahwa cadangan bantuan dari entitas seperti SMI dan INA selalu siap jika sewaktu-waktu diperlukan. Hal ini menunjukkan bahwa strategi intervensi pasar obligasi ini merupakan bagian dari upaya komprehensif pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah gejolak pasar keuangan global. Dengan jumlah cadangan dana yang besar dan berbagai opsi pendanaan yang tersedia, pemerintah optimis mampu melewati tantangan pelemahan Rupiah dan menarik kembali minat investor asing ke pasar modal Indonesia. Pengelolaan kas yang cermat dan intervensi pasar yang tepat sasaran menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik dan stabilitas ekonomi nasional. Langkah proaktif ini diharapkan dapat memberikan sinyal positif kepada pasar dan mengembalikan sentimen positif terhadap aset keuangan Indonesia.











