
Aroma rempah kaldu santan yang direbus menciptakan daya tarik tersendiri di gerai Soto Kuning Pak Yusup, Surya Kencana, Bogor. Pengunjung rela antre untuk menikmati hidangan legendaris ini. Iswahyudi, adik dari pemilik, menceritakan perjalanan bisnis keluarga yang dirintis sejak 1993. Berawal dari kondisi lingkungan yang mayoritas pedagang soto, usaha ini tumbuh dari kaki lima hingga kini menempati ruko empat lantai milik sendiri.
"Saya di sini sebagai adik dari owner (Pak Yusup). Kita dipercaya untuk mengelola usaha ini. Jadi apapun yang terjadi di lapangan, kita yang menjawab," ujar Yudi.
Soto Kuning Pak Yusup didirikan sekitar tahun 1993 di Gang Aut, Surya Kencana. Lingkungan tempat tinggal yang dipenuhi pedagang soto, bahkan disebut "Blok Soto", menjadi inspirasi kuat. Akulturasi budaya Tionghoa di kawasan tersebut mendorong semangat berdagang warga lokal untuk membuka usaha kuliner. Kesamaan menu dan lokasi tidak pernah memicu konflik, melainkan kerukunan yang erat.

Pak Yusup memulai usahanya dengan memikul dagangan, lalu beralih ke gerobak, dan akhirnya menyewa kios strategis. Kini, Soto Kuning Pak Yusup menjadi ikon kuliner khas Bogor, dengan keterlibatan keluarga dekat dalam pengembangannya.
Sebelum mengelola soto, Yudi bekerja di dunia ritel dan distribusi. Ia memanfaatkan waktu libur akhir pekan untuk membantu usaha keluarga. Setelah bertahun-tahun, ia memutuskan fokus penuh pada Soto Kuning Pak Yusup, mengelola operasional dapur yang melibatkan lima vendor keluarga.
Dihantam Pandemi, Dibantu KUR BRI
Tantangan terbesar bisnis ini adalah pandemi COVID-19. Pembatasan aktivitas menyebabkan penurunan omzet drastis. Beruntung, pada 2021-2022, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menawarkan solusi permodalan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Yudi memanfaatkan kesempatan ini untuk menutup biaya operasional dan memperpanjang sewa kios. Pinjaman modal usaha sebesar Rp 50 juta dan Rp 75 juta dengan tenor singkat terbukti sangat membantu.

"Waktu masih di seberang, ada pihak BRI yang menawarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebetulan saat itu ekonomi lagi sulit-sulitnya pas pandemi. Ya sudah, kita ambil," cerita Yudi. Proses pencairan pinjaman terbilang cepat, hanya beberapa hari.
Berkat bantuan KUR BRI, Soto Kuning Pak Yusup berhasil bertahan melewati masa kritis pandemi dan terus berkembang.
Usaha Berkembang, Pindah ke Ruko
Keputusan mengambil KUR BRI terbukti tepat. Dalam beberapa tahun, keluarga Pak Yusup berhasil mengumpulkan modal tambahan untuk menempati ruko empat lantai milik sendiri pada Desember 2025. Ruko ini murni hasil dari perputaran usaha soto. Tempat baru ini meningkatkan omzet hingga dua kali lipat, didorong oleh kapasitas yang lebih luas dan variasi menu. Kini, Soto Kuning Pak Yusup mempekerjakan 15 orang dari keluarga dan kerabat.

Bagi Yudi, pencapaian tertinggi adalah keberhasilan mendidik anak-anaknya. Dua dari tiga anaknya sudah menjadi sarjana dan bekerja di BUMN. Anak bungsunya kini menempuh kuliah di IPB. Yudi optimis terhadap masa depan usaha, namun tetap realistis, mengutamakan kualitas rasa di atas kuantitas cabang.
BRI terus berupaya mendukung UMKM melalui KUR. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa KUR adalah instrumen strategis untuk mendukung sektor mikro dan produktif. Sepanjang 2025, BRI menyalurkan KUR sebesar Rp 178,08 triliun kepada 3,8 juta debitur, dengan sektor pertanian menjadi kontributor utama.











