
Setelah mengalami kelangkaan sejak awal 2026, bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, khususnya Shell V-Power Diesel, kini telah kembali tersedia secara bertahap di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell Indonesia. Kabar baik ini disampaikan langsung oleh manajemen Shell Indonesia melalui akun Instagram resmi mereka, @shell_indonesia, pada Ahad (10/5/2026), mengakhiri penantian para pelanggan setia. Namun, kembalinya ketersediaan solar ini diiringi dengan kenaikan harga yang signifikan.
Harga solar di SPBU Shell melonjak drastis, mencerminkan tren kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Jika sebelumnya harga solar di SPBU Shell hanya Rp 14.620 per liter pada 1 Maret 2026, kini harganya menembus angka Rp 30.890 per liter. Kenaikan harga ini menjadi pukulan telak bagi konsumen, terutama para pelaku industri yang sangat bergantung pada solar sebagai bahan bakar operasional.
Menurut pengumuman resmi Shell Indonesia melalui laman mereka, Shell V-Power Diesel kini dapat ditemukan di sejumlah wilayah strategis seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, Bekasi, dan Bandung. Sayangnya, ketersediaan BBM jenis lain dari Shell, seperti Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+, masih belum pulih sejak kelangkaan yang terjadi di awal tahun 2026. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan pasokan di segmen BBM non-diesel masih menjadi pekerjaan rumah bagi perusahaan.
Fenomena kenaikan harga BBM ini tidak hanya terjadi di SPBU Shell. Pertamina, sebagai pemain utama di industri energi nasional, juga telah mengumumkan pembaruan harga untuk sejumlah jenis BBM nonsubsidi yang berlaku mulai 4 Mei 2026. Penyesuaian harga ini sejalan dengan dinamika pasar global, meskipun dampaknya terasa berbeda antar jenis bahan bakar.
Di wilayah Jabodetabek, Pertamina menaikkan harga Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp 19.400 per liter menjadi Rp 19.900 per liter. Kenaikan serupa juga dialami oleh Pertamina Dex Series, yang mencakup Dexlite (CN 51) dan Pertamina Dex (CN 53). Harga Dexlite kini menjadi Rp 26.000 per liter, naik dari Rp 23.600 per liter pada April 2026. Sementara itu, Pertamina Dex dibanderol Rp 27.900 per liter, melonjak dari Rp 23.900 per liter.
Menariknya, Pertamina masih berusaha menjaga stabilitas harga untuk Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95). Harga Pertamax tetap di level Rp 12.300 per liter, dan Pertamax Green di Rp 12.900 per liter, harga yang sama sejak Maret 2026, tepat sebelum eskalasi konflik AS-Israel dan Iran. Kebijakan ini menunjukkan upaya Pertamina untuk memberikan sedikit ruang bernapas bagi konsumen Pertamax di tengah gejolak harga BBM nonsubsidi lainnya.
Selain itu, harga BBM penugasan dan subsidi juga dilaporkan tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual seharga Rp 10.000 per liter, dan Biosolar Rp 6.800 per liter. Keputusan ini menjadi angin segar bagi masyarakat pengguna BBM bersubsidi, yang ekonominya lebih rentan terhadap fluktuasi harga energi. Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini tentu akan mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih jenis bahan bakar, dan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap BBM subsidi jika kuota memungkinkan. Situasi ini menyoroti kompleksitas pasar energi yang dipengaruhi oleh faktor geopolitik global dan kebijakan penetapan harga domestik.











