Sawit Indonesia Tingkatkan Produktivitas Lewat Teknologi Canggih

Budi Santoso

Sawit Indonesia Tingkatkan Produktivitas Lewat Teknologi Canggih

Industri kelapa sawit Indonesia terus berinovasi dengan mengadopsi teknologi mutakhir untuk mendongkrak produktivitas dan efisiensi operasional. Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap tuntutan global akan keberlanjutan, tantangan ketersediaan tenaga kerja, serta kebutuhan akan keterlacakan produk (traceability) yang semakin ketat.

Upaya ekspansi penggunaan teknologi ini menjadi sorotan utama dalam forum Konsorsium Mekanisasi, Digitalisasi & Otomasi (MDO) yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Acara yang berlangsung di kebun PT Binasawit Abadipratama, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, ini menjadi wadah penting bagi para pelaku industri sawit untuk berbagi pengalaman, melakukan benchmarking, serta mengamati langsung penerapan teknologi terkini di lapangan.

Dwi Asmono, Ketua Bidang Riset & Pengembangan GAPKI, menegaskan bahwa transformasi teknologi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keniscayaan bagi industri sawit demi menjaga daya saing di kancah global. "Kalau kita bicara teknologi, research innovation ada idiom yang mengatakan innovate or die, inovasi atau mati. Persaingan di industri ini luar biasa," ujar Dwi Asmono dalam siaran persnya. Ia menambahkan bahwa peningkatan produktivitas menjadi fokus utama sektor hulu sawit. Untuk itu, GAPKI secara proaktif mendorong pembentukan berbagai konsorsium lintas perusahaan, mencakup konsorsium sumber daya genetik, penanganan Ganoderma, hingga yang terpenting adalah mekanisasi, digitalisasi, dan otomasi.

Model pembelajaran bersama antarperusahaan dinilai sangat krusial untuk mempercepat adopsi teknologi di seluruh perkebunan sawit. "Industri membutuhkan shared learning, benchmarking, pilot project bersama, dan keberanian mencoba teknologi baru," imbuh Dwi Asmono.

Baca Juga :  Prabowo Peringatkan Korupsi Program Makan Bergizi Gratis

Dalam kegiatan tersebut, para peserta berkesempatan menyaksikan langsung penerapan sejumlah inovasi, salah satunya adalah metode replanting rorak yang telah diimplementasikan oleh PT Binasawit Abadipratama. Benny Yusuf Setiawan, CEO PT Binasawit Abadipratama, menjelaskan bahwa pemanfaatan mekanisasi dan otomasi secara signifikan membantu meningkatkan efisiensi pekerjaan lapangan yang sebelumnya sangat bergantung pada tenaga manual. Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa metode replanting yang diterapkan perusahaannya berpotensi besar untuk meningkatkan produktivitas tanaman sawit sejak masa awal panen. "Jika target sebelumnya pada usia 31–42 bulan setelah tanam sekitar 10 ton, sekarang kita bisa meningkat menjadi 15 bahkan sampai 20 ton per hektar untuk yield panen perdana," ungkap Benny dengan optimisme.

Rizki Djaya, Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, menekankan bahwa peningkatan produktivitas merupakan salah satu pilar fundamental dalam menjaga keberlanjutan industri sawit nasional. "Tujuan kegiatan hari ini adalah meningkatkan produktivitas kelapa sawit dengan berbagai strategi, mekanisasi, serta percepatan produksi agar sawit berkelanjutan ini bisa kita pertahankan," tuturnya. Ia menambahkan bahwa Indonesia masih kokoh memegang predikat sebagai produsen sawit terbesar di dunia, menyumbang sekitar 40 persen dari total kebutuhan global.

Melalui inisiatif Konsorsium MDO, GAPKI memiliki target ambisius untuk melahirkan proyek percontohan teknologi yang inovatif, menetapkan standar praktik industri yang unggul, serta mengembangkan sumber daya manusia di sektor sawit agar lebih adaptif dan siap menghadapi pesatnya perkembangan teknologi di masa depan.

Baca Juga :  IHSG Menguat 0,5%, Saham Ekspor Menggeliat, MDKA Rights Issue

Also Read

Tinggalkan komentar