Rupiah Tertekan di Rp 17.500, Target APBN Jauh

Budi Santoso

Rupiah Tertekan di Rp 17.500, Target APBN Jauh

Nilai tukar Dolar AS terus menguat terhadap Rupiah, menekan mata uang Garuda ke kisaran Rp 17.500-an, bahkan mencapai Rp 17.575 pagi ini menurut data Bloomberg. Pelemahan ini jauh melampaui target nilai tukar yang ditetapkan dalam asumsi makro APBN, di mana APBN 2026 mematok angka Rp 16.500. Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai Rupiah akan sulit turun di bawah Rp 17.000, menyebut level ini sebagai keseimbangan baru. "Saya melihat memang kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sulit ya. Ini ada angka keseimbangan baru begitu ya. Ada angka keseimbangan baru Rp 17.000 ya," ujar Tauhid. Ia memperkirakan penguatan Rupiah paling maksimal berada di kisaran Rp 17.000-Rp 17.200, yang membutuhkan dukungan efektif dari tujuh langkah Bank Sentral. Tauhid menekankan perlunya pemerintah merevisi asumsi makro APBN yang sudah tidak sesuai realitas, atau setidaknya menyampaikan kerangka fiskal yang jelas dan transparan hingga akhir tahun untuk menjaga kepercayaan investor.

Senada, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, juga pesimis Rupiah dapat menguat signifikan mencapai target APBN. Ia menyoroti faktor eksternal seperti gonjang-ganjing geopolitik dunia, khususnya perang Iran-AS yang memicu kenaikan harga minyak, sebagai penyebab utama pelemahan Rupiah. "Semua bisa terjadi (penguatan signifikan Rupiah terhadap Dolar AS) apabila perang Iran-AS berakhir atau selat Hormuz dibuka dan harga minyak turun kembali ke level semula," ungkap Lukman. Dari dalam negeri, sentimen negatif seperti pengelolaan APBN yang ekstrem hingga defisit mendekati 3% dan polemik pasar modal membuat investor ragu dan menarik modal. Lukman menyarankan pemerintah untuk mengurangi anggaran non-esensial dan Bank Indonesia menaikkan suku bunga.

Baca Juga :  PTK Goes to Campus Tingkatkan Kompetensi Pelaut Muda Makassar

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menambahkan bahwa dalam jangka pendek, Bank Indonesia perlu aktif menjaga pasar valas agar pelemahan tidak memicu kepanikan. Namun, untuk menguatkan Rupiah secara fundamental, dibutuhkan hal yang lebih besar, yaitu menjaga kepercayaan pasar. Ia menekankan pentingnya kesatuan suara dan kebijakan yang searah dari anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) serta komunikasi yang baik. "Tapi yang paling penting sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat pemerintah, BI, dan otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya cepat membesar," tegas Rendy. Rendy juga menyoroti ketergantungan ekonomi Indonesia pada impor bahan baku, energi, dan aliran modal asing, yang membuat Rupiah rentan terhadap gejolak global. Ia menyarankan pemerintah untuk serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor yang selama ini banyak mengimpor seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri. Selain itu, kepastian kebijakan yang jelas dan konsisten dari pemerintah sangat penting untuk menarik dan mempertahankan investor.

Also Read

Tinggalkan komentar