Rupiah Terpuruk, Ekonomi RI Hadapi Himpitan Ganda

Budi Santoso

Rupiah Terpuruk, Ekonomi RI Hadapi Himpitan Ganda

Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor pelemahan, menembus level psikologis baru di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan yang mengkhawatirkan ini terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen dalam upaya stabilisasi.

Menurut Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, pelemahan rupiah yang terus berlanjut ini merupakan sinyal serius bahwa perekonomian Indonesia tengah menghadapi "himpitan ganda". Himpitan tersebut berasal dari tekanan moneter global yang tak kunjung reda serta tantangan struktural domestik, khususnya di sektor energi dan fiskal yang kini mulai diuji oleh pasar.

Rahma menjelaskan bahwa pelemahan ini bukan sekadar masalah angka semata, melainkan mencerminkan dominasi fenomena "higher for much longer" yang persisten. Meskipun suku bunga acuan telah dinaikkan, pasar menilai selisih imbal hasil (yield) instrumen domestik belum cukup kompetitif dibandingkan dengan aset dolar AS. Penguatan indeks dolar (DXY) ke posisi 99,10 dan kenaikan yield US Treasury semakin mengindikasikan bahwa investor meyakini suku bunga di AS akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

"Rupiah yang tetap melemah menandakan bahwa daya tarik instrumen domestik sedang diuji oleh magnet safe haven yang sangat kuat," ujar Rahma. Ia menambahkan bahwa sinyal ini juga mengarah pada kondisi pasokan devisa yang mengetat. Beberapa faktor yang perlu diwaspadai meliputi kebutuhan dolar untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen yang biasanya mencapai puncaknya pada kuartal kedua setiap tahunnya.

Baca Juga :  BUMN Ungkap Filosofi Ekspor SDA Satu Pintu, Tolak Sentimen Negatif

Rahma memandang pelemahan tajam rupiah ini sebagai cerminan ketidakseimbangan antara lonjakan permintaan dolar dengan perlambatan pasokan devisa. Peningkatan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik di Timur Tengah turut memperparah situasi, dengan meningkatnya permintaan dolar untuk impor energi, seperti kebutuhan Pertamina. Kondisi ini secara langsung menambah tekanan terhadap cadangan devisa dan nilai tukar rupiah. Pemerintah bersama Bank Indonesia menyatakan akan terus memantau pergerakan pasar untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi ini.

Also Read

Tinggalkan komentar