Rupiah Menguat atas Dolar AS Berkat Aksi Profit Taking

Budi Santoso

Rupiah Menguat atas Dolar AS Berkat Aksi Profit Taking

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini menguat menjadi Rp 17.476 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.529 per dolar AS. Penguatan ini dinilai disebabkan oleh aksi ambil untung terhadap dolar AS setelah sebelumnya mengalami penguatan yang cukup tajam. Muhammad Amru Syifa, dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), menjelaskan bahwa penguatan rupiah sejalan dengan aksi profit taking terhadap dolar AS pasca rilis data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar.

Tingkat inflasi tahunan AS pada April 2026 tercatat mencapai level tertinggi sejak Mei 2023, yakni sebesar 3,8 persen. Angka ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memprediksi 3,7 persen, dan juga melampaui angka inflasi Maret 2026 yang sebesar 3,3 persen. Kenaikan inflasi AS ini menjadi pemicu utama bagi investor untuk melakukan aksi ambil untung pada dolar AS.

Selain itu, investor juga cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu rilis data inflasi produsen AS (Producer Price Index/PPI). Perkembangan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping juga menjadi faktor yang diperhatikan karena berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar global. Di tengah tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah, sebagian pelaku pasar mulai melakukan reposisi aset. Hal ini secara tidak langsung mengurangi tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Baca Juga :  VinFast Selidiki Insiden Tabrakan Taksi Green SM dan Kereta Bekasi

Dari dalam negeri, rupiah mendapatkan dukungan dari optimisme pasar terhadap langkah Bank Indonesia (BI). BI diperkirakan akan terus aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valas dan obligasi. Muncul pula spekulasi bahwa BI berpotensi melakukan penyesuaian suku bunga. Langkah ini bertujuan untuk menjaga daya tarik aset domestik dan meredam tekanan arus keluar modal asing.

Sentimen positif lainnya berasal dari upaya pemerintah dalam memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik. Hal ini mencakup upaya menjaga likuiditas dan stabilisasi pasar surat utang. Meskipun demikian, pergerakan rupiah ke depan masih diperkirakan akan fluktuatif. Pasar akan terus mencermati arah kebijakan The Fed, arus modal asing, serta perkembangan risiko geopolitik global.

Sebagai konfirmasi penguatan ini, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga bergerak menguat ke level Rp 17.496 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.514 per dolar AS. Penguatan rupiah ini menjadi kabar baik bagi perekonomian Indonesia, meskipun tantangan eksternal seperti kebijakan moneter negara maju dan ketegangan geopolitik masih perlu dicermati.

Also Read

Tinggalkan komentar