
Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026), tercatat melemah 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp 17.667 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi ini bergeser dari penutupan sebelumnya di Rp 17.654 per dolar AS. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengemukakan bahwa pelemahan rupiah kali ini sangat dipengaruhi oleh rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) bulan April 2026. Dalam risalah tersebut, mayoritas pejabat Federal Reserve (The Fed) secara gamblang menyampaikan peringatan mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan.
Sebelumnya, pada rapat FOMC bulan April 2026, bank sentral AS ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dana federal pada kisaran 3,5 hingga 3,75 persen. Namun, nuansa yang tersirat dalam risalah terbaru justru menimbulkan kekhawatiran baru bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. "Mayoritas pejabat Federal Reserve (Fed) memperingatkan bahwa bank sentral kemungkinan perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi terus berada di atas target 2 persen mereka," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis. Pernyataan ini secara langsung mengindikasikan bahwa The Fed belum sepenuhnya puas dengan capaian pengendalian inflasi dan siap mengambil langkah tegas jika diperlukan.
Lebih lanjut, Ibrahim Assuaibi juga menyoroti bahwa risalah FOMC tersebut secara spesifik menyoroti adanya peningkatan kekhawatiran di kalangan pejabat The Fed terhadap tekanan inflasi yang saat ini diperparah oleh eskalasi ketegangan geopolitik, khususnya perang antara Amerika Serikat dengan Iran. Perang ini tidak hanya menimbulkan ketidakpastian di pasar energi, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok global dan mendorong kenaikan harga barang dan jasa, yang pada gilirannya akan menekan angka inflasi.
Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa perang Iran berada pada tahap akhir, pernyataan lanjutan yang menyertai kekhawatiran tentang kegagalan mencapai kesepakatan dapat memicu aksi militer lanjutan Amerika Serikat terhadap Iran. Hal ini tentu saja membatasi optimisme pasar global dan menambah lapisan ketidakpastian yang sudah ada. Investor cenderung bersikap hati-hati dan mencari aset yang lebih aman, yang seringkali berarti mengurangi eksposur pada mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas moneter Indonesia, Bank Indonesia (BI). Meskipun dalam pemberitaan terpisah disebutkan bahwa pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.300 per dolar AS pada 24 April 2026 dinilai dipicu oleh meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan, kali ini risalah FOMC memberikan narasi yang lebih spesifik mengenai potensi pengetatan kebijakan moneter AS.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan akan terus memantau pergerakan pasar dengan cermat. Upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi ini menjadi prioritas utama. Langkah-langkah intervensi, komunikasi kebijakan yang jelas, dan koordinasi yang kuat antara pemerintah dan bank sentral akan menjadi kunci untuk meredam dampak negatif dari faktor-faktor eksternal seperti kebijakan The Fed dan ketegangan geopolitik. Pergerakan kurs rupiah ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan data inflasi AS, pernyataan lanjutan dari The Fed, serta dinamika penyelesaian konflik di Timur Tengah.











