Rupiah Melemah Tertekan Global, Struktur Ekonomi Jadi Sorotan

Budi Santoso

Rupiah Melemah Tertekan Global, Struktur Ekonomi Jadi Sorotan

Pada Jumat (24/4/2026) sore, nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp17.268 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan tipis ini terjadi setelah sebelumnya rupiah sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS. Pemerintah mengakui bahwa pelemahan nilai tukar rupiah ini dipicu oleh meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Sebagai respons, pemerintah bersama Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memantau pergerakan pasar secara ketat guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi. Namun, di balik pergerakan harian tersebut, terdapat isu struktural yang lebih dalam terkait kinerja rupiah dibandingkan mata uang utama ASEAN lainnya dalam lima tahun terakhir.

Tren pergerakan rupiah terhadap dolar AS dalam lima tahun terakhir menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan mata uang utama ASEAN lainnya seperti baht Thailand dan ringgit Malaysia. Sejak awal tahun 2025, baht dan ringgit dilaporkan mulai bergerak menguat. Sebaliknya, rupiah justru masih menunjukkan tren pelemahan. Pengamat ekonomi, Muhammad Syarkawi Rauf, menjelaskan bahwa kondisi ini tidak semata-mata dipengaruhi oleh sentimen pasar jangka pendek, melainkan lebih berkaitan erat dengan struktur ekonomi Indonesia yang dinilainya masih belum sekuat negara tetangga.

Syarkawi, yang juga merupakan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, menyampaikan dalam sebuah pesan singkat kepada wartawan pada Jumat (8/5/2026) bahwa sejak tahun 2022 hingga 2026, rupiah secara konsisten mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Fenomena ini kontras dengan baht dan ringgit yang sejak Januari 2025 mulai berbalik arah menjadi menguat. Ia berpendapat bahwa Thailand dan Malaysia memiliki basis manufaktur ekspor yang lebih kuat. Hal ini menyebabkan aliran devisa mereka lebih stabil, berbeda dengan Indonesia yang masih sangat bergantung pada ekspor komoditas dan manufaktur berteknologi rendah.

Baca Juga :  Rupiah Melemah ke Rp 17.728 per Dolar AS Akibat Konflik Timur Tengah

Lebih lanjut, Syarkawi menyoroti kontribusi sektor manufaktur Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang saat ini hanya berkisar 19 persen. Angka ini tertinggal dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang masih berada di kisaran 23-24 persen. Ia juga menyebutkan bahwa Vietnam kini mulai menunjukkan performa yang melesat sebagai basis manufaktur baru di Asia Tenggara. Kontribusi sektor manufaktur Vietnam terhadap PDB disebut mencapai sekitar 24,48 persen, yang didukung oleh industri berorientasi ekspor, khususnya sektor elektronik.

"Vietnam berhasil membangun manufaktur berorientasi ekspor. Sementara Indonesia masih dominan pada komoditas dan manufaktur berteknologi rendah," ujar Syarkawi. Ia juga menyoroti bahwa ekspor Indonesia masih didominasi oleh produk mineral dan pertanian. Kondisi ini berbeda dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang telah mulai bertumpu pada ekspor produk elektronik dan permesinan. Menurut Syarkawi, transformasi industri Indonesia menuju produk teknologi tinggi belum berjalan optimal. Bahkan, kandungan teknologi tinggi dalam ekspor manufaktur Indonesia dilaporkan terus mengalami penurunan. "Transformasi ke produk high-tech tidak jalan. Kita masih terjebak pada ekspor manufaktur berteknologi rendah," tegasnya, menggarisbawahi tantangan struktural yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi volatilitas ekonomi global.

Also Read

Tinggalkan komentar