
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan signifikan, terdepresiasi 35 poin atau setara 0,20 persen, sehingga berada di angka Rp 17.881 per dolar AS. Posisi ini merupakan kemunduran dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.846 per dolar AS. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengidentifikasi dua faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah ini, yaitu ketidakpastian harga minyak global dan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.
Harga minyak dunia saat ini menunjukkan volatilitas yang tinggi dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Ibrahim menjelaskan bahwa pasar tengah bereaksi terhadap berbagai berita yang saling bertentangan terkait negosiasi gencatan senjata. Sempat muncul sentimen positif ketika beredar laporan bahwa Washington dan Teheran dilaporkan telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan ini juga dibarengi dengan kelanjutan negosiasi mengenai program nuklir Iran dan isu keamanan regional. Prospek gencatan senjata tersebut sempat meredakan kekhawatiran akan potensi kekurangan pasokan minyak secara langsung dan memunculkan harapan bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur laut yang sangat strategis, dapat kembali normal secara bertahap.
Namun, harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilaporkan masih berada jauh di bawah tingkat sebelum terjadinya konflik, sehingga premi risiko geopolitik masih memberikan dampak negatif terhadap pasar minyak. Ketidakpastian inilah yang kemudian ikut membebani pergerakan rupiah.
Selain faktor minyak, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis baru-baru ini. Inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS yang tidak sesuai dengan perkiraan pasar turut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level yang tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kebijakan suku bunga tinggi oleh bank sentral AS ini memicu fenomena arus keluar modal asing atau capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ibrahim menambahkan bahwa investor cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen yang memiliki risiko lebih rendah di Amerika Serikat, seperti obligasi, yang saat ini menawarkan imbal hasil yang lebih menarik. Pergerakan ini semakin menekan nilai tukar mata uang negara berkembang.
Sebagai indikator tambahan, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada hari ini juga menunjukkan tren pelemahan yang serupa, bergerak ke level Rp 17.883 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya di Rp 17.789 per dolar AS. Kombinasi faktor eksternal yang kuat dari pasar komoditas energi dan kebijakan moneter global, ditambah dengan sentimen pasar yang berhati-hati, menjadi penyebab utama pelemahan rupiah hari ini.











