
Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan signifikan, bahkan sempat menyentuh angka Rp 17.600 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026) pagi. Analis memprediksi mata uang Garuda ini berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada Mei 2026 jika tren pelemahan berlanjut. Mengutip data Bloomberg, pelemahan rupiah tercatat sekitar 73 poin atau 0,42 persen pada awal perdagangan. Meskipun sempat stabil di kisaran Rp 17.570-an per dolar AS menjelang siang, kekhawatiran akan pelemahan lebih lanjut tetap membayangi.
Penguatan indeks dolar AS yang kembali menembus level 99, serta kenaikan harga minyak mentah global, menjadi faktor pemberat bagi rupiah. Harga minyak Brent crude oil dilaporkan mencapai 106 dolar AS per barel, sementara WTI crude oil berada di kisaran 101 dolar AS per barel. Kenaikan harga komoditas energi ini sangat dipengaruhi oleh memanasnya konflik di Timur Tengah.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa momentum libur nasional pada Kamis (14/5/2026) dan Jumat (15/5/2026) turut menambah tekanan pada rupiah. Pemicu utama pelemahan ini adalah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran. Latihan perang besar-besaran yang dilakukan Iran di kawasan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran bagi AS dan negara-negara sekitarnya seperti Uni Emirat Arab (UEA), Oman, dan Arab Saudi.
Ibrahim menambahkan bahwa kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke UEA dan Arab Saudi di tengah eskalasi konflik juga menciptakan ketegangan tersendiri, meskipun telah dibantah oleh negara-negara terkait. Indikasi adanya pergerakan kerja sama antara Israel dengan negara-negara Timur Tengah ini diperkuat oleh intelijen.
Konflik di Selat Hormuz semakin memanas dengan tenggelamnya kapal kargo India dari Afrika menuju UEA di perairan lepas pantai Oman pada Rabu. Hingga kini, dalang di balik insiden tersebut belum terungkap, yang semakin menambah ketidakpastian di kawasan. Iran juga dilaporkan menahan sejumlah kapal setelah melakukan latihan perang besar-besaran, yang semakin meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Selain faktor geopolitik, ekspektasi kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve) juga menjadi kontributor signifikan terhadap pelemahan rupiah. Kenaikan harga gasoline diprediksi akan mendorong inflasi di AS, sehingga kemungkinan besar The Fed tidak akan menurunkan suku bunga pada tahun 2026. Suku bunga yang lebih tinggi akan memperkuat indeks dolar AS, terutama jika dibarengi dengan perang dagang.
Di sisi lain, pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di China untuk membahas perang dagang dan persoalan Timur Tengah juga menarik perhatian. Jinping menekankan agar AS tidak ikut campur dalam masalah Taiwan, yang dapat mempengaruhi hubungan bilateral kedua negara. AS sendiri menyatakan kesiapannya untuk menghadapi pasukan Iran di Selat Hormuz tanpa bantuan China. Situasi ini semakin kompleks dengan adanya sanksi AS terhadap individu dan perusahaan di China, Hong Kong, UEA, dan Oman yang membantu penyaluran minyak untuk China.
Laporan dari pertemuan pejabat AS dan China mengindikasikan adanya narasi agenda besar China untuk membantu Iran dalam hal persenjataan, guna menyelamatkan transportasi impor minyak mentah yang menjadi sumber vital bagi China. Kombinasi dari ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, dan faktor eksternal lainnya ini secara kolektif menyebabkan penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan akhirnya pelemahan nilai tukar rupiah.











