Rupiah Melemah, DPR Ingatkan Jangan Buru-buru Ambil Kesimpulan Ekonomi

Budi Santoso

Rupiah Melemah, DPR Ingatkan Jangan Buru-buru Ambil Kesimpulan Ekonomi

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menyimpulkan kondisi ekonomi nasional hanya berdasarkan pergerakan nilai tukar rupiah atau tingginya pertumbuhan belanja pemerintah pada awal tahun. Ia menekankan bahwa berbagai indikator ekonomi harus dibaca secara utuh agar tidak melahirkan kesimpulan yang keliru mengenai fondasi ekonomi Indonesia. "Demokrasi tentu memberikan ruang bagi kritik dan perbedaan pandangan. Namun kita juga harus jujur melihat data secara menyeluruh. Ekonomi tidak bisa dibaca hanya dari satu atau dua angka yang berdiri sendiri," ujar Azis Subekti kepada wartawan di Jakarta, Ahad (31/5/2026).

Perdebatan publik belakangan ini diramaikan oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.800 per dolar AS dan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen pada Triwulan I 2026. Dari dua indikator tersebut, muncul berbagai penilaian, mulai dari anggapan bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan serius hingga tudingan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini hanya ditopang oleh belanja negara.

Azis menilai pandangan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. "Konsumsi pemerintah memang tumbuh tinggi, tetapi itu tidak otomatis berarti menjadi penopang utama ekonomi nasional. Kita harus melihat struktur ekonomi Indonesia secara keseluruhan," katanya. Ia menjelaskan bahwa konsumsi pemerintah hanya menyumbang sekitar 6,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sebaliknya, konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung perekonomian dengan kontribusi sekitar 54 persen.

Baca Juga :  Buruh Tuntut Kejelasan Satgas PHK Presiden Prabowo

Oleh karena itu, narasi yang menyebut ekonomi Indonesia semata-mata digerakkan oleh belanja negara tidak sepenuhnya tepat. "Kalau menggunakan pendekatan source of growth BPS, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ini menunjukkan bahwa masyarakat tetap menjadi motor utama perekonomian Indonesia," tegas Azis. Ia menambahkan bahwa kekuatan terbesar Indonesia selama ini bukan terletak pada pasar keuangan ataupun ekspor semata, melainkan pada besarnya pasar domestik dan daya tahan ekonomi rakyat.

Aktivitas ekonomi yang dilakukan jutaan masyarakat setiap hari menjadi fondasi yang membuat Indonesia mampu bertahan menghadapi berbagai gejolak global. "Mesin utama ekonomi Indonesia sesungguhnya ada di pasar-pasar tradisional, UMKM, petani, nelayan, pekerja, dan keluarga-keluarga yang terus berproduksi dan berbelanja. Mereka mungkin tidak selalu terlihat dalam headline statistik, tetapi merekalah jantung ekonomi nasional," paparnya.

Meskipun demikian, Azis mengingatkan bahwa optimisme terhadap kekuatan domestik tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan sinyal yang diberikan pasar keuangan global. Penting untuk tetap waspada terhadap dinamika ekonomi internasional yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Penguatan sektor riil yang didorong oleh konsumsi rumah tangga perlu terus dijaga dan ditingkatkan, sembari memantau dan mengelola risiko dari sektor keuangan global. Pendekatan yang holistik dan komprehensif dalam menganalisis kondisi ekonomi sangatlah krusial untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Pertamina Jamin Stok BBM Aman di Tengah Krisis Timur Tengah

Also Read

Tinggalkan komentar